[Review Buku] Evergreen

Judul: Evergreen
Author: Prisca Primasari
Jumlah Halaman: 203
Penerbit: Grasindo (PT Gramedia Widiasarana Indonesia)

Resume (ada spoiler-nya dikit yah):
Rachel, wanita karir keturunan Jepang mengalami masa depresi dan merasa menemui jalan buntu dalam hidupnya. Rachel dipecat dari perusahaan yang dibanggakannya karena sebuah kesalahan yang menurutnya tidak begitu fatal. Pemecatan ini berdampak besar bagi Rachel. Ia merasa tidak akan diterima lagi di perusahaan manapun. Belum lagi sifatnya yang penuh keluhan, membuat ia tidak lagi “diterima” eman-temannya.

Keputusasaan selau menemani sampai seseorang memberitahukan kepadanya tentang kedai es krim bernama Evergreen. Kunjungan pertama cukup berkesan bagi Rachel hingga singkat cerita, Rachel ditawari oleh owner Evergreen–Yuya–untuk bekerja di kafenya. Tawaran yang awalnya ia tolak, tapi akhirnya ia penuhi dengan keterpaksaan. Dan cerita pun dimulai di sini.

Di Evergreen, Rachel mengenal Yuya, Gamma, Fumio, dan juga Akari. Bagi Kari, Rachel adalah beban. Hubungan mereka tidak terlalu dekat awalnya, tapi dengan satu kejadian yang mereka alami, Kari cukup melunak kepada Rachel. Kisah para pekerja di kedai es krim Evergreen terus berlanjut hingga akhirnya Rachel sadar akan posisi dirinya, berkaca dari kisah mereka. Rachel yang egois dan self-centered mulai belajar hal “baru” untuk dirinya. Bukan hal yang baru sebenarnya. Akan tetapi hal yang baru setelah ia mengalami kejadian yang tidak mengenakkan di masa mudanya.

Pada akhir cerita, sang owner memberitahukan apa arti Evergreen darinya, dan kisah ditutup dengan epilog. Epilog yang bukan diceritakan Rachel, tapi dari sudut pandang Fumio.

Opini:
Melihat rating yang cukup tinggi di goodreads, harga diskon, dan juga tulisan “Best Seller Fiction” di sampul depan, membuat saya pergi membawa buku ini ke kasir toko buku bersama beberapa buku lain. Dan yah.. seperti itulah buku ini berakhir di rak buku setelah sekian lama, dan akhirnya baru kebaca sekarang. Hehe..

Overall, eksekusi cerita cukup bagus, alurnya menarik, dan juga interaksi antar tokoh yang wajar membuat saya terus mau membalik buku ini selama saya punya waktu luang. Bukan tipe buku yang bikin saya penasaran dan bela2in untuk meluangkan waktu. Tapi yaaa cuma skedar dibaca pas malas ngapa2in. FYI, buku ini mulai dibacanya karena kejadian mati listrik se pulau Jawa area barat kemarin. Dan sejak itu diterusin sampai sekarang.

Membaca buku ini dari satu halamn ke halaman lain, buat saya kayak nonton filem drama Jepang. Saya sendiri ga terlalu banyak nonton drama Jepang. Tapi intinya yaaa.. gitu lhah. Banyak bagian yang harus dijelaskan, ternyata ga dijelaskan di akhir cerita. Ga tau karena memang ga penting atau karena emang bakal ada sekuel-nya. Alurnya cukup lambat, dan ada teka-teki di awal cerita untuk menjadi twist di akhir cerita.

Dari sekian banyak review yang saya baca di goodreads, nilainya c hampir seragam yah… kira2 kasih bintang 4 atau 5 gitu. Tapi ada juga yang kasih bintang 2. Bintang 1 juga ada, tapi ga nemu. Udah males scroll saya-nya. Hohoho. Para readers pemberi bintang 2 ini, rata-rata kecewa karena budaya “jejepangan” yang ga sesuai harapan. Belum lagi karena pemilihan kata, atau juga karena ga suka ajah. Tanpa alasan. Yap, se-simple itu.

Terdapat beberapa kejanggalan cerita di beberapa tempat. Contohya, umur Fumio dan adiknya, awalnya diceritakan beda 2 tahun. Tapi akhirnya jadi 1 tahun aja di halaman berikutnya. Terus. saya ga tau berapa gaji di kedai es krim itu, tapi bisa bikin pegawainya sedikit “berfoya-foya”. Contohnya, bisa beli lukisan. Punya piano. Nonton opera di akhir pekan. dan lainnya.. Saya ga tau itu mungkin terjadi atau enggak, walau dengan kemurah-hatian dari sang owner, tapi kayaknya yaaaa… ga bakal segitunya.

Belum lagi, sifat memaafkan yang sebegitu besarnya. Saya cukup ga yakin dengan sifat tokoh2 di buku ini yang gampang memaafkan terjadi di dunia nyata. Kalalu memang gitu, damai deh dunia. Yah, berharap aja sikap mereka itu memang hal nyata yang layak diteladani. Mungkin kamu bertanya-tanya… maaf-nya itu ada di mana?! Well, akhir dari cerita menjeskan semuanya. Buat saya, hal itu cukup ga mungkin c yah. Kecuali di cerita drama yang kontrak tayang nya udah hampir habis. Jadi konfliknya musti diselesaikan secepatnya. Kayaknya c gitu.. Entah memang konfliknya yang emang sengaja dibuat minim, atau lingkungan saya aja yang terlalu pendendam… entah… ga tau saya.

Pluuusss.. Hal yang mungkin bikin agak kontroversi itu buat saya, waktu kejadian Yuya cium pipinya Rachel tiba2. Uhmm, mungkin ada yang bilang ini soo sweet yah. Tapi, berhubung mereka bukan dalam kondisi terikat (entah pacar atau apa), dan Rachel itu digambarkan “biasa” aja ama si Yuya-nya.. cendrung kasar malah. Entah sengaja digambarkan tipe2 tsundere gitu atau apa.. tetap ajah ya. Beberapa pihak yang saya kenal, bisa jadi nge-judge itu sebagai scene pelecehan seksual. Menurut kamu berlebihan?! Entahlah… tapi percaya deh. Ada yang nganggap gitu.

Balik lagi ke penilaian buku secara overall… Buat saya, buku ini.. enggak masuk ke “my cup of tea”. Saya sendiri awalnya ga yakin. Tapi akhirnya saya yakin setelah menutup cover akhir buku ini. Ceritanya hampir datar dan menyimpan kesedihan tersendiri. Belum lagi ending-nya. Bukan ending cerita c sebenernya, tapi epilog cerita. Saya musti berlinang air mata ngebayangin scene yang diceritain sama Fumio. Saya ga mau cerita yah, sebenernya scene-nya gimana… tapi asli. Saya nangis sebelum nutup tamat buku ini. Dan pas ditutup, lebih mengharu biru lagi.

Well, kalau kamu bertanya-tanya “ini segitu menyedihkannya?!” jawaban saya c “kayaknya enggak.. saya nya aja yang terlalu de-ra-ma“. Yaaaah, yang kenal saya, pasti tau, saya tuh gampang banget netesin air mata. Kebayang aja rasa sendiri dan kesepian itu. Ga akan bisa dikurangin pakai acara jalan2 dan bertualang segala. I know how it feels. Bahkan sebelum review buku ini ditulis, saya sendiri sempat berlinang air mata.

Dan karena alasan di atas, akhirnya saya ga mau buku ini masuk ke dalam “cup of tea” saya. Jadi.. bintang 2 saya kasih buat buku ini. Kebayang kalau saya masukin buku ini rate 4/5 karena ceritanya emang bagus buat saya walau sedikit “off” di beberapa tempat.. nanti daftar rekomendasi buat buku yang saya baca akhirnya jadi penuh cerita sedih. Ga suka c.

Dan yah… begitulah… 2 bintang untuk buku bagus penuh moral tapi harus membuat saya berlinang air mata.

Advertisements

[Review Buku] Our Story

Judul: Our Story
Author: Orizuka

Resume:
Yasmine, cewek pindahan dari Amerika ke Indonesia, masuk ke sekolah Budi Bangsa karena kesalahan orang kepercayaan ayahnya. Sekolah dengan reputasi buruk dari segi siswanya, manajemennya, bahkan juga hampir sebagian besar gurunya. Di sekolah ini Yasmine bertemu Nino si pembuat onar beserta bawahannya, Mei (bukan anak baik2 dari segi moral juga), Ferris si ketua kelas dan ketua Osis dengan misinya sendiri, dan juga teman-teman lainnya dengan sifat pem-bully.

Interaksi Yasmine, Nino, Mei, dan juga Ferris berada dalam satu titik temu, yaitu ketidakpercayaan pada orang dewasa, dan mimpi mereka untuk mengubah “dunia”-nya. Dan hal itu merupakan ceritanya.. cerita mereka.

Opini pribadi:
Cerita ini bisa dibilang ga biasa dengan eksekusi yang juga ga biasa pastinya. Pemilihan judulnya tepat banget. Our Story… Cerita Kita. Iya, kita! Kita dalam artian mereka, para tokoh cerita. Awalnya Yasmine bercerita tentang dirinya yang masuk sekolah tidak bermutu dengan segala masalah di dalamnya. Tapi makin ke tengah cerita, terdapat cerita tentang Nino. Cerita tentang Mei, Cerita tentang Ferris dan Nino, dan lainnya. Melebar lhah. Seperti cerita tipe “jurnal” lainnya, satu akhir cerita merupakan awal dari cerita lainnya. Tapi di buku ini, kisah berhenti di tahun kelulusan dengan sejumlah karangan bunga yang tertulis di dalamnya.

Kisah dari satu scene ke scene yang lain bikin author blog ini jadi kayak lihat filem remaja Thailand dengan kisahnya masing-masing. Asli. Tapi dialog yang tergambar, dituliskan dengan keren!

Untuk ceritanya… Saya pribadi gak bermasalah dengan ceritanya yang terlalu wooww. Yaaa, ga heran ada hal se-wooww yang diceritakan buku ini di luar sana. Tapi, kalau di jaman sekarang ada yang ngebacanya, mungkin kesannya terlalu lebay… dan ngerasa, kok bisa kejadian gitu ga viral di jamannya terus ga ada penindakan. Well, wajar aja c yah, ini buku ceritanya udah lama. Udah 9 tahun lalu (kayaknya) dari penulisan tulisan opini ini. Latar ceritanya sendiri cukup kekinian dan ga dimakan jaman. Jadi wajar kalau ada yang kepikiran gitu. Walaupun sejauh ini ga ada yang komen gitu. Hehe..

Ceritanya enak dibaca. Ga tau karena emang enak dibaca atau karena author ini sukak banget ama novel yang ditulis Orizuka. Belum lagi penggambaran Mei yang having crush ke Ferris (which is nyata banget pas scene “gw-ngehindarin-Ferris“-nya). Seneng banget lhah intinya… Hahaha.. begitulah.

Kalau kamu tanya rekomen atau enggak… saya c jawabannya bakal tergantung sama si penanya. Dia udah cukup dewasa atau enggak buat tau mana yang baik atau enggak baik sesuai norma? Bukannya kenapa2.. kalau salah baca, bisa jadi kesan yang ditimbulkan, orang dewasa tuh kebanyakan ga bisa dipercaya, kekerasan itu diperlukan dalam kehidupan, dan hal-hal lain yang cukup negatif. Sekali lagi, itu kalau dibacanya ga bener yah. Memang ada kesan baik yang ditinggalkan kayak betapa pengertiannya Ibu-nya Mei, terus Bapak guru PKN-nya. Dan beberapa kesan baik lainnya. Tapi yang namanya kondisi psikologis manusia c yah.. saya pernah dapat ceramah kalau yang namanya pikiran negatif bakal meng-generalisir keadaan jadi serba negatif. Yah, liat aja kondisi sosmed dengan berita politik Indonesia hampir 6 tahun belakangan ini. Jadi… karena tokoh2 dalam cerita ini berfikiran negatif, khawatir bakal menghilangkan kesan positif yang ada di dalamnya.

Begitulah… sekali lagi, bukan berarti buku ini ga bagus yah. Cuma hati2 aja kalau dibaca anak-anak jaman now c. Apalagi ini cerita remaja dengan target pembaca yang remaja juga. Okeh, gitu ajah.. 4 bintang buat cerita anak-anak Budi Bangsa yang punya mimpi mengubah “dunia”-nya.

[Review Buku] Cinder Ana On Duty

Judul: Cinder Ana On Duty
Author: Sofi Meloni
Jumlah Halaman: 284
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Resume:
Anna, cewek SMA biasa mempunyai perubahan aktivitas luar biasa setelah kejadian yang dialaminya bersama seorang artis terkenal bernama Kent Adrian. Terlebih setelah Kent memiliki “takdir” yang “dekat” dengannya, yaitu menjadi bintang reality show di sekolah Anna. Berbeda dengan 2 sahabatnya Lika dan Juli, yang merupakan fans berat Kent, Anna hampir tidak tahu apa-apa tentang Kent selain ia adalah artis terkenal, spanduknya yang besar di sebuah mall pada acara Meet & Greet, dan juga 2 temannya yang mengagungkan sosok Kent. Anna jelas lebih memilih Kak Vino menjadi sosok yang dipujanya di ekstrakurikuler Pramuka dibanding Kent yang menjadi sosok idola remaja kebanyakan.

Perubahan hidup Anna terlihat setelah Kent memilih Anna sebagai asisten pribadinya secara paksa karena kecelakaan yang mereka berdua alami. Dibantu dengan Bang Asep (yang ingin dipanggil Kak Elsa), Anna menjalani hidupnya sebagai sosok yang menemani Kent di saat-saat tertentu. Interaksi yang dimulai dari perseteruan berubah ke arah yang berbeda setelah saling mengenal dan memahami. Jelas Kent menyimpan rasa pada Anna. Tapi Anna cukup tahu tentang pilihannya yang lain, dan bebas konflik dari Isabella–sosok aktris yang terobsesi pada Kent. Sampai akhirnya, Anna harus memilih antara Kent atau Kak Vino. Siapakah yang Anna harus pilih?

Opini:
Cerita teenlit kebanyakan dengan “template” yang juga pastinya rata-rata udah ketebak ceritanya. Belum lagi judulnya yang udah kasih petunjuk sendiri ini cerita tentang apa. Cewek biasa dengan pemikiran simple-nya, cowok luar biasa dengan ketenarannya. Terus ada cowok biasa yang dipuja cewek biasa. Tokoh pembantu di sana-sini. Interaksi yang berlebihan antara cewek biasa dan cowok luar biasa. Rasa yang muncul di antara keduanya. Tokoh antagonis yang tiba-tiba muncul di tengah cerita. Hal yang harus diperjuangkan, dan juga solusinya. Standar. Tapi eksekusi dari authornya keren banget dan enggak standar sama sekali (ini opini pribadi lhoh ya).

Walaupun mengambil cerita remaja kebanyakan dengan alur standar, “template” cerita yang udah dikenal… setting di sekolah SMA kelas 11, dan cewek “simple” yang juga ketebak kisahnya, novel ini nyaman banget buat dibaca. Mungkin kamu bertanya-tanya “Kok Bisa? Bukannya bosan..”

Well, buat pembaca buku se-gede author blog inih, mungkin ini tuh mirip kayak dengerin musik yang udah familiar beat-nya tapi pakai melody dan lirik yang baru. Atau kayak penikmat musik K-Pop yang nyaman banget denger karya musisi idol mereka dari album ke album walau tiap albumnya beda genre dikit2.

Intinya, author buku ini enggak menyediakan sesuatu yang sama sekali baru, tapi enak banget buat dinikmati di waktu senggang. Kalau review dari goodreads user, banyak yang bilang ceritanya ngalir, alurnya seru, bisa balikin mood baca… dan secara pribadi, saya setuju ama komentar-komentar itu. Dan terlebih, ini buku happy ending! (at least for me).

Banyak hal-hal kecil yang akhirnya dikemas rapi sama author dengan cara yang manis. Asli, ini keren banget. Saya ngebaca buku ini tipe soft-copy c yah. Pake aplikasi Gramedia Digital. Jarang banget ada fiksi yang bisa saya baca sampai selesai di aplikasi ini. Soalnya biasanya dipakai buat baca majalah, koran atau tabloid aja. Pernah c beli buku fiksi… tapi akhirnya ga kebaca sampai selesai. Dan buat buku Cinder on Duty ini, tamat dalam beberapa hari. Iya, ga langsung tamat kayak baca buku dulu c yah.. tapi akhirnya selesai. Bahkan sampai ditulisin review-nya di blog ini. Yeaaayy… ini pencapaian!

Apapun itu, buku ini recommended banget buat dibaca di waktu senggang. Apakah akan dibaca lagi dalam waktu dekat?! Jawabannya mungkin enggak.. dalam waktu lama?? Mungkin jawabannya juga sama.. yaitu enggak. Heu.. bukannya karena ceritanya ga bagus. Tapi yaaa namanya fiksi yah, ya udah… ntar juga pas mulai baca ulang di halaman berapa udah keingat ceritanya terus ga seru lagi. Beda ama buku pelajaran. Walau udah dijelasin ama guru, dibaca sendiri… tetep aja ga inget kontennya pas ujian. Hahaha.. Begitulah.

Simpulannya, 4 bintang buat buku keren dengan cerita standar tapi fantastis ini.

[Review Buku] Kening

Diambil dari Goodreads

Judul: Kening
Author: Rakhmawati Fitri
Ilustrasi: Koolastuffa
Jumlah Halaman: 194
Penerbit: Terrant

Resume: –

Opini gw:
Buat gw… buku ini membingungkan. Karena~~ cover, judul, dan endorse yang ada di belakang buku semuanya ga ada yang nyambung ama isi cerita. Bahkan efeknya…. at least buat gw. Makanya gw bingung mau nulisin resumenya apa. Karena dari satu bab ke bab lain isinya variatif banget. Ada c kesamaan… yaitu tentang gaya komunikasi seorang Fitri Tropika. Seharusnya kalo mau nyambung judulnya yaaaa semacam “Fitrop dalam Suka dan Cinta” atau “Fitrop Punya Cerita”…. tapi yaaa… ga menjual c yah.

Dominannya sampai pertengahan buku, ceritanya tentang kisah cinta seseorang bernama Fitri. Dari kecengannya yang ga sengaja nemu di satu event di luar negri… sampai pindah hati ke seseorang dengan gambaran akan harapan “seems-like-he-is-the-one” yang ternyata juga berakhir sad ending. Terus lanjut ke surat cinta yang ga biasa…. dongeng imajinasi tingkat tinggi dari seorang Fitrop… dan akhirnya ditutup dengan sebuah tulisan yang gw tunggu2. Yap… sesuatu yang gw harapkan ternyata tetap ada dan muncul di akhir cerita dari buku ini.

Sebenernya… capek c ngebaca bukunya… walau alhamdulillah gw selesai juga baca bukunya. Jadi… apa dulu yah yang gw komentarin. Hmmm… kayaknya layout buku dulu yah. Soalnya ini yang paling bikin gw bete baca bukunya.

Untuk bukunya… ukurannya lebih kecil dari buku yang lain gw punya (gw bicara tentang Pelit yang gw miliki pastinya). Tapi…. ada yang bikin ga nyaman di buku ini walo bukunya kayaknya lebih mudah dibaca. Pertama marginnya yang terlalu kecil. Jadi gw bacanya tuh panjaaaanggg banget kalo mau capai tepi kanan. Belum lagi alignment-nya dibuat rata kiri-kanan. Font-nya juga bikin cape (gw doank kali yah). Font-nya cocok sama ilustrasi yang ditampilin, tapi ga nyaman buat gw baca. Efek dari font plus ukuran margin dan alignment ini bikin gw ngrasa baca diktat kuliah. Serius! Diktat kuliah algoritma gw gini banget ditulisnya…. kayaknya biar hemat kertas. Padat materi soalnya tuh diktat. Kalo aja nih buku ada beberapa kalimat ditulis pake font Courier… lengkaplah sudah… gw bener2 kayak baca diktat kuliah yang udah menahun ga gw sentuh.

Buat kontennya sendiri, khas fitrop. Pilihan kalimat yang digunakan pastinya bukan yang tipe simple. Jadi… butuh sekitar 2-3 baris buat ngejelasin suatu hal. Padahal seperti yang gw udah bilang… marginnya tipis. Jadi kebayang ajah penjelasannya gimana. Berhubung konsentrasi gw agak2 dipertanyakan akhir2 ini… Gw kadang musti baca kalimatnya 2 sampai 3x buat nangkep maksud si Fitrop.

Di awal2 buku yang nyeritain tentang kisah perjalanan cinta Fitrop… bertebaran lirik2 lagu yang buat gw ga meaning sama sekali. Bukannya kenapa2 c yah… Tapi kalo ada yang naruh lirik lagu, biasanya gw bakal baca dalam irama yang sesuai. Tapi berhubung gw sama sekali buta tentang band2 plus judul lagu yang dia taruh, gw jadi bingung sendiri. Karena ga enak banget dibacanya. Judul2 filem, branded fashion, plus merek terkenal dari produk-entah-apa-pun kadang jadi perbandingan untuk ngungkapin sesuatu. Ada yang bisa gw bayangin karena emang terkenal… tapi kebanyakan enggak. Overall untuk kisah cinta ini…. Gw bakal seneng kalo ngebacanya dalam format blog dengan segala macam foto dan link video yang bisa gw puter. Sayang banget gw ga bisa nikmatin cerita itu kalo ditulisin dalam format buku yang tekstual banget. Bahkan hampir mirip diktat kuliah.

Di pertengahan buku setelah kisah cintanya diselesaikan dengan kata2 penuh makna buat sang terkasih, ada ilustrasi2 unik terkait cerita. Dan efek lucu plus lebay semakin menguat di sini. Sampai di akhir buku…. barulah gw menemukan apa yang gw harapkan dari Fitrop.

Gw beneran naruh harapan khusus buat buku ini. Sampe gw minta tolong temen gw buat nyariin bukunya buat gw miliki. Soalnya di toko buku langganan dah ga terbit lagi bilangnya… dan gw masih lum sempet keliaran nyari2 buku. Walo gw kecewa awalnya (gw udah bilang kan kalo kisah cintanya membosankan buat dibaca?!)… tapi ternyata ga kecewa2 banget akhirnya.

Ungkapan kekecewaan itu ga bermaksud apa pun… Tapi lebih karena gw naruh harapan lebih buat sosok Fitrop. Soalnya, gw tuh dah sok ngaku2 kalo Fitrop itu guru spiritual dan role model buat gw. Soalnya witty gitu dianya. Kalo gw udah harus nutup diri gw dengan sebuah candaan garing… yaaaa gaya Fitrop lah yang selalu gw tiru. 😀 Belum yah, walo dia becanda… tapi ada pesan moral yang terkandung di tiap candaan.

Yahhh… gitu deh…

Setelah namatin bukunya… gw jadi tau Fitrop gimana… termasuk kehidupan pribadinya yang dia ceritain. Paling ga gw jadi tau kalo Fitrop ngecengin kakak angkatan gw (ketauan gw lulusan mana) 😛 Gw jadi penasaran sapa yang dia kecengin plus dari jurusan mana. Dan seharusnya ada kemungkinan gw tau yang mana orangnya. Soalnya, kalo ngikut umur, Fitrop tuh masih kuliah pas gw baru masuk kuliah. Jadi kecengannya juga belum lulus kan… Belum lagi pas taun2 Fitrop masuk kuliah, universitas gw terkenal sulit banget keluarnya. Apalagi yang dari Elektro. Kakak angkatan di kosan aja ada yang baru lulus setelah 6 taun T_T eh.. gw ga nyebut nama dia ya… jadi ga bisa dibilang ngumbar aib :mrgreen:

Okeh… daripada gw melangkah makin jauh dari topik awal… review Kening akan gw tutup dengan ngasi 2 bintang buat cerita kisah personalnya Fitrop yang identik dengan ke-“lebay”-an.

2-stars

[Review Buku] 8…9…10…

5273610

Gambar diambil dari Goodreads

Judul: 8… 9… 10… Udah Belom?!
Author: Laurentia Dermawan

Resume:
Nesya dan Vino adalah teman sepermainan dengan kondisi yang diragukan apakah wajar atau tidak. Nesya sering melukai Vino (entah sengaja atau tidak), dan Vino akan membujuk Nesya yang menangis agar diam karena telah melukainya. Yah, Vino terluka, tapi Nesya yang menangis. Cukup wajar sebenarnya untuk anak2. Suatu hari, mereka bermain petak umpet. Kondisinya, Nesya harus bersembunyi sampai ditemukan Vino si pencari. Sayangnya, Vino tidak pernah menemukan Nesya sampai pengasuh Vino memanggilnya untuk pulang. Di lain tempat, Nesya menganggap permainan masih belum usai. Nesya masih menunggu dan terus menunggu sampai Mike menemukannya.

Faktanya, permainan itu sepertinya tidak pernah berakhir…. Justru, permainan itu meninggalkan teka-teki bagi Nesya dan Vino. Teka-teki yang sepertinya cukup rumit karena Nesya sendiri telah mengalami kecelakaan dan berefek pada kehilangan memorinya. Ketika teka-teki tersebut mulai menemukan jawabannya, akankah mereka dapat meneruskan dan menyelesaikan permainan tersebut? Permainan petak umpet bukanlah tentang menang atau kalah…. tapi tentang menemukan dan ditemukan. Apakah pada akhirnya yang satu dapat menemukan yang lain? atau mereka tetap terus pada posisi masing2… the one that hide, and the one that seek? Apapun itu, pada hitungan kesepuluh… si pencari akan selalu menanyakan “Udah Beloooom?” untuk memulai melakukan pencarian.

Opini gw:
Abis gw baca resume di atas, gw jadi bertanya2…. ituh spoiler ga c? Gw berharap enggak deh. Toh ga ada ending dan kejutan2 yang gw sampaiin kan? Buat yang udah ngebaca dan ngerasa aneh tentang gimana cara gw nutup itu kalimat, ga usah heran. Gw tau itu ga berkorelasi ama ceritanya, cuma gw rasa itu cocok kalo gw tambahin di akhir kalimat.

Apapun resumenya, buku ini teenlit pertama yang gw baca setelah beratus hari gw vakum dari nulis2 resensi buku. Buku yang gw baca pas gw ngantri dokter, ngantri resep, ngantri ambil darah, nemenin Nyokap ama Bokap, ngalihin pikiran gw biar ga ada aer di mata gw.

Akhirnya, bukunya tamat gw baca, dan nih aer muncul lagi di mata. Bukan karena bukunya mengharukan… tapi karena gw sedih…. hidup anak es em a tuh seminimalis ini yah?! Perasaan dulu gw es em a juga gitu. Jadi ajah gw sedih. Tepatnya iri. Yah, gw iri ama kehidupan gw yang dulu. Tololnya gw! Ngapain gw iri ama diri gw sendiri!

Balik lagi ke bukunya, pas ngebaca nih buku, awalnya c agak menghibur, lama2 jadi agak ngebosenin, monoton, dan ngerasa ga ada twist sama sekali. Walo gitu, nih buku tetep enak dinikmati sampai kata terakhir.

Karakternya ada Eca/Nesya, Vino, Kiara, dan Egi (gw suka karakter Egi, dan ngerasa pengin scene-nya dia dibanyakin). Semuanya tampak ganteng/cantik dan berkarakter. Tipikal teenlit dengan hidup remaja kekinian yang minimalis. Ditambah cerita yang menurut gw klise abis, ga heran kalo anak2 es em pe/es em a kasih rating yang bagus buat nih buku. Gw sendiri, even udah ga remaja lagi masih mau kasih 3 bintang buat bukunya. Buat gw, bacaan ringan buat refreshing dari kehidupan yang musti dihadapi.

Tapiiiii… karena gw ga sukak ada adegan kissing dalam novel teenlit, jadi bintangnya gw kurangin satu. Sooo… udah jelas yah. Putusannya, 2 bintang buat permainan yang 10 tahun ga selesai2.

2-stars

[Resume Buku] Teller sampai Teler

Diambil dari Goodreads

Judul: Teller sampai Teler
Author: @ferhatmuchtar
Jumlah Halaman: 176

Resume:
Terdiri dari 17 cerita pendek dari seorang mantan Teller. Pastinya, terkait dengan kehidupan di bank. Mulai dari curhatan tentang penampilan seorang frontliner, tentang nasabah tengil, terkait nasabah unik, menyangkut tim standar quality (SQ) yang berasa jadi musuh bersama, dan cerita unik lainnya yang bisa ditemui saat kamu bekerja sebagai Teller di sebuah bank.

Opini gw:
Sorry, gw gak bisa banyak cerita untuk resume ataupun opini. Kenapa?! Karena emang gak banyak yang bisa gw ceritain… Bukunya tipis banget. Kesan yang ditimbulkan ke gw pun lebih tipis dari jumlah halaman bukunya. Buat lebih jelasnya, gini nih komentar gw di goodreads:

Satu bintang cukup yah..
Ada harapan yang ga terpenuhi soalnya.

Pas liat cover depan ama cover belakang, nih buku keliatan menjanjikan candaan manis yang bakal ngocok perut sejadi-jadinya. Yang pastinya janji itu bakal kerasa diingkari sejak baca bagian pertama. Isinya tentang curhatan c yah.. mending kl ada joke yang emang lucu kayak di cover belakangnya. tapi sayangnya, hal2 lucu yang disimpan di setiap cerita berasa hambar, datar, bahkan terkesan kasar (buat gw).

Satu bintang.. bukan karena buku/kontennya jelek.. tapi cuma karena gw yang kayaknya berharap terlalu banyak.

1 Star

[Resume Buku] The Photographer

Jpeg

Judul Buku: The Photographer – Cahaya Untuk Hati yang Berani Tertatih
Author: Endang SSN
Jumlah Halaman: 260
Penerbit: deTeens
Harga Beli: 15 ribu

Resume:
Rasta, seorang anak SMA kelas 12 yang bercita-cita ingin menjadi fotografer, memiliki hidup yang cukup rumit untuk kehidupan pribadinya. Mulai dari Raja, sang adik yang memusuhinya, sang ayah yang tidak merestui cita-citanya, dan pacarnya yang meminta ia untuk memilih antara kamera dan sang pacar. Semua hal berlangsung cukup rumit dan komplek bagi Rasta. Hanya Ian, sang sahabat yang terus mendukungnya.

Semuanya dijalankan dengan begitu saja…

Selepas lulus SMA, Rasta kuliah jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) di ITS. Ia bertemu Angga, sang pecinta fotografer yang telah menggantung kameranya, Dimas yang menjadi sosok “kakak” bagi Rasta, dan beberapa tokoh pendamping lainnya. Singkat cerita, Rasta lulus dari ITS dan kembali ke kampung halamannya, Bogor. Dalam perjalanan ke Bogor, ia bertemu Boy di kereta SBY-JKT. Seorang fotografer profesional dari perusahaan yang cukup terkenal di Jakarta. Cerita tentang Boy-Rasta, berhenti sementara di sana.

Di Bogor, Rasta mendapat pertentangan akan cita-cita yang tetap ia pegang teguh. Sampai akhirnya, Rasta harus pergi dari rumahnya. Ia tidak lagi dianggap anak bagi ayahnya. Kepergian Rasta memang menyisakan luka. Tapi, ia tidak sendiri. Masih ada Ian yang tetap mendampinginya. Berdua mereka membanting tulang, mengais rejeki di tengah kerasnya hidup di ibukota. Sampai akhirnya Rasta diterima di sebuah perusahaan sebagai staff administrasi.

Cerita belum berhenti sampai di sana…. Karena akhirnya, Ian dan Rasta menjadi fotografer profesional seperti yang mereka cita-citakan. Dan setelahnya… masih ada sedikit cerita tentang Raja dan Ayah, untuk hidup Rasta.

Opini gw:
Ngebaca buku plus namatin buku ini sebenernya agak capek dan memuakkan buat gw. Buat gw lhoh yaaa… Buat kamu yang masih belum terlalu banyak baca novel (terutama novel luar atau metropop), juga buku teks dari bahasa pemrograman tertentu, mungkin kamu ngerasa fine2 ajah. Ngerasa bagus malahan… karena di novel ini bertebaran cukup banyak nilai moral dan kehidupan. Tapi buat gw, itu semua jadi hal yang cukup basi. Gw tau arti dari pentingnya sebuah mimpi… tapi kalo lo udah ada di state-angka (umur maksudnya) samaan ama gw, mimpi cuma jadi cerita memotivasi yang bikin mata kamu berkaca-kaca…. dan semuanya cukup sampai di sana ajah. Gak ada lagi lanjutannya.

Buat gw, terlalu banyak nilai moral dan hal sejenis ngebikin gw lagi baca buku motivasi. Buat lo yang ga tau, gw kasih tau yah… gw agak2 alergi ama buku jenis ini sejak mantan kecengan gw ngebuka mata gw tentang hal2 gini2an. Terus, ada banyak juga hal2 teknis terkait fotografi. Fotografi jelas bukan ilmu yang gw tekuni. Jadi, penjelasan teknisnya bikin gw agak terganggu… Karena emang gak ada hubungannya ama alur cerita. Pelengkap ajah. Maklum, ini kan #novelprofesi katanya. Lanjut lagi, gw berasa aneh ama tokoh-tokohnya yang kebanyakan cowok. Ada c ceweknya, cuma ga terlalu besar porsinya di beberapa cerita. Bahkan cewek terakhir yang diceritain di sini itu… (yah, oke, gw cut. Takut spoiler). Dengan porsi tokoh yang pastinya gak seimbang ini, gw punya kesan lagi ngebaca fanfic bertema yaoi rating T. Berasa nih novel ditulis fujoshi. Emosinya dapet banget c yah. Berantemnya, stress-nya, senengnya… semuanya dapet. Cuma buat gw, lagi2 terasa berlebihan. Gw gak pernah nyangka ada cowok se’ekspresif’ ini. O iya… buat tambahan info, typo-nya lumayan…

Okeh, itu dari segi konten. Buat penerbit plus percetakan, gw kecewa ama penulisan beda font, padahal perasaan pemakaiannya gak maksud. Intinya gw ngerasa font-nya ada yang beda gitu… bisa jadi sengaja, bisa juga enggak. Tapi kalo gw liat2 lagi, kayaknya bukan kesengajaan tuh font sampe dibikin beda. Ini ada di hal 222-223. Belum lagi, hal 245-245 gw ilang. Nih buku ilang selembar! Hhh… mungkin wajar yah, dijual obral. Kan gw beli 15 ribu doank. Jadi mungkin gara2 alasan itu.

Sooo… dari sekian banyak, sayangnya, ga ada bintang yang bisa gw kasih buat Rasta dan mimpinya.

0 star

[Resume Buku]

Diambil dari Goodreads

Judul: The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared
Author: Jonas Jonasson
Translator: Marcalais Fransisca
Penerbit: Bentang Pustaka
Jumlah Halaman: 508

Resume:
Seorang kakek tua telah kabur dari Rumah Lansia, sebuah tempat yang harus ia anggap “rumah” beberapa bulan terakhir. Kaburnya Allan, si kakek tua, dilakukan beberapa menit sebelum perayaan ulang tahunnya yang ke-100. Kepergian ini bukanlah tanpa alasan. Ia memiliki alasan yang kuat, hanya saja kepergian tersebut tidak memiliki tujuan. Karena itulah, ketika ia menaiki bus, hanya 50 krona (1 krona sekitar 17 ribu rupiah) yang ia berikan kepada pengemudi sambil menanyakan tujuan yang bisa ia capai dengan harga tersebut. Stasiun Byringe seharga 48 krona menjadi jawaban yang diterima Allan sehingga ia memutuskan untuk mengikuti jalur tersebut. Tetapi, bukan hanya dirinya yang ia bawa di jalur itu. Sebuah koper juga ikut bersamanya. Sebuah koper yang dititipkan oleh seorang pemuda di stasiun karena pemuda tersebut ingin ke toilet menuntaskan hasratnya. Koper ini akan menjadi permasalahan karena si pemuda merupakan anggota kelompok Never Again–kelompok anarkis dengan anggota eks-narapidana dan bisnis yang jauh dari kata legal.

Kepergian Allan merupakan satu hal yang mencengangkan sekaligus mengkhawatirkan, dan menimbulkan kehebohan di mana-mana. Pengejaran dilakukan oleh dua pihak dalam tujuan yang berbeda. Satu pihak mengejar Allan, dan pihak lain mengejar koper yang dibawa Allan. Kejadian demi kejadian terjadi, mulai dari pertemuan Allan dengan Julius, pengejaran yang berhasil dilakukan oleh si pemuda-anggota-Never-Again, pertemuan dengan Benny, Gunilla, dan banyak lagi pertemuan lainnya.

Secara terpisah, cerita Allan mengenai kehidupan masa lalunya, menjadi sisipan di antara cerita pengejaran yang terjadi di tahun saat ulang tahun Allan yang ke-100. Allan ternyata bukan warga Swedia biasa. Ia merupakan ahli peledak. Keahlian yang sangat dibutuhkan di jaman itu. Sehingga, dalam hidupnya, Allan bertemu dengan tokoh-tokoh penting yang diceritakan dalam sejarah. Mao Tse Tung, Chiang Kai Sek, Harry S. Truman, Kim Jong Il, bahkan secara tidak langsung berhubungan dengan presiden Suharto. Sampai akhirnya, di ulang tahunnya yang ke-100, Allan pun diminta perwakilan pemerintah Indonesia untuk membantu beberapa hal terkait bom atom.

Opini gw:
Uhhmmm… maaf kalo resume di atas agak2 spoiler. Gw asli gak maksud banget. Tapi yah.. gitu yang bisa gw ceritain. Bisa lebih banyak lagi, tapi gw mencoba sebisa mungkin menahan diri dan itulah hasilnya. Yaaa.. banyak hal yang mau gw tulis tentang alur cerita buku ini. Terutama tentang Amanda dan Herbert Einstein, Indonesia dan lebih banyak lagi tentang Indonesia. Yah, ada beberapa hal lain tentang sejarah dari negara lain, tapi sayangnya sejarah dan geografi bukan 2 mata pelajaran yang bikin gw tertarik pas es em a. Jadi yaaa… gw agak2 skip gt bacanya. Sekedar memahami alur cerita si Allan udah ketemu tokoh sejarah siapa ajah dalam idupnya.

Banyak hal yang bikin gw kagum buat novel ini. Ceritanya, alurnya, tokoh-tokohnya, bahkan sindiran kasar yang lebih terasa sebagai celaan kepada berbagai hal. Ada banyak hal yang gw suka… tapi pastinya bukan tentang penggambaran negara Indonesia. Gak seperti pembaca goodreads kebanyakan (yang kayaknya ketawa2 abis ngebaca versi asli buku ini–yang pastinya beberapa orang setau gw termasuk WNI), gw malah ngebacanya dengan sikap hampir gak terima.

Yah, gimana enggak… Indonesia secara gak langsung disebut sebagai negara berbudaya korup dengan penyebutan langsung pake kata “Tempat semua hal bisa dibeli dengan uang”. Suap menyuap merupakan hal biasa. Bahkan, menurut Allan, Richard Nixon–presiden ke-37 US, akan sukses berkarir di Indonesia dengan penjelasan berupa latar belakang pengunduran diri sang presiden dari jabatannya. Hhhh…. Belum lagi tentang pengangkatan Amanda Einstein jadi duta besar Indonesia buat negara France. Weeww banget dah! Tapi, itu gak mungkin ada asap kalo gak ada api kan, yah?! Udah jadi pemakluman buat warga di negara ini terkait hal2 sejenis walo gak semuanya gitu. Tapi… bukan cuma Indonesia yang kena opini negatif dari Allan… Dalam pengelanaannya ke berbagai negara, Allan juga membuat sindiran kasar pada berbagai hal. Jadi… yah, sama2 memperbaiki diri ajah.

Yah, begitulah… gw gak bisa komentar lebih banyak. Karena buat gw, buku ini emang cuma cerita 2 hal besar: pertama sejarah dunia, dan kedua pelarian Allan dari orang2 yang berkepentingan. Dan gw lebih sukak yang kedua dibanding yang pertama. Maklum ajah, gw suka ngelamun pas dulu guru sejarah gw nerangin tentang revolusi di berbagai negara di dunia. Tapi buat yang kedua, gw gak bisa berkomentar lebih banyak lagi… Karena kesannya “lucu” banget.

Buat bukunya, gw ngacungin jempol buat translator dan semua pihak yang berada di balik terbitnya buku ini di Indonesia. Berasa pas ajah c… Tiap kata-katanya gw bisa ngerti dengan baik. Beberapa kalimat ada yang musti gw baca ulang, tapi itu kayaknya karena gw ngebaca nih buku sambil nonton drama korea. Jadi… salah gw ajah yang ga fokus.

Begitulah, apa pun pengalaman Allan, gw berharap semua itu fiksi. Bukannya kenapa2… gw saking seriusnya ngebaca nih buku, jadi suka lupa kalo yang gw baca bukan berjenis biografi. Akhir postingan, gw kasih 3 bintang buat Allan yang di akhir cerita bersedia ngebantu Indonesia karena presidennya yang ke- 6 dinyatakan sebagai “orang yang sangat bijak dan bertanggung jawab”.

3 Stars

[Resume Buku] Critical Eleven

Diambil dari Goodreads

Judul: Critical Eleven
Author: Ika Natasha

Resume:
Tanya dan Ale, 2 pasangan yang memutuskan untuk berkomitmen membangun rumah tangga mereka walau sesi perkenalan mereka berlangsung dalam waktu yang cukup singkat. Bertahun-tahun mereka menjalani hidup mereka dengan harmonis, sampai suatu kejadian memisahkan keduanya. Ale membuat kesalahan yang membuat Tanya membangun tembok tinggi dan tebal terhadap Ale. Bagi Ale itu sebuah tembok ketika itu hanya antara mereka, dan berubah menjadi dinding kaca transparan di depan orang tua masing-masing. Berakting di depan kedua  orang tua seolah tembok itu tidak ada. Kepalsuan dihadirkan saat memberi hadiah pada Ale di hari ulang tahun sang suami.

Faktanya, Ale saat ingin meruntuhkan tembok tersebut. Hanya saja ego Tanya sebagai seorang pasangan hidup dan calon ibu tidak memberi kesempatan pada Ale untuk meruntuhkannya. Ketika semua sudah berlangsung semakin memuncak, dan terlihat membaik, luka itu masih tetap terasa. Apakah rumah tangga itu masih dapat diselamatkan? Pada akhirnya, cinta lah yang menjadi jawaban.

Opini gw:
Well, resume di atas kalo gw baca2 lagi agak lebay sebenernya. Tapi yaaa intinya gitu… Dimulai dari perkenalan 2 orang “berkelas” di sebuah pesawat, terus berlanjut sampai jenjang pernikahan. Ternyata satu kata yang terlontar dari mulut sang suami membuat pernikahan itu berada di ujung tanduk. Kepalsuan demi kepalsuan mereka hadirkan di hadapan semua orang. Hanya di hadapan masing-masing dan kepada asisten rumah tangga saja mereka dapat menghadirkan hal seperti apa adanya. Semuanya semakin memburuk, terlebih kebersamaan bukan hal rutin yang dapat mereka rasakan. Sampai akhirnya, make-up sex cukup memperbaiki beberapa hal dalam pikiran si tokoh cowok. Walaupun efek sebaliknya dirasakan oleh sang istri.

Penolakan tetap ia rasa harus diberikan terhadap suaminya sendiri walau ada sesuatu dalam dirinya yang mulai berusaha menerima semuanya. Yah, ego merupakan satu dari banyak hal yang berpengaruh di dunia ini. Kalo diliat2, kata-kata si suami emang keterlaluan c yah… Walo gitu, agak kesel juga ama si istri. Suaminya kan udah minta maaf. Bahkan udah menyesali semuanya. Yah… gw gak tau musti mihak ke yang mana. Awalnya gw mihak ke si istri, tapi kalo ngeliat istrinya gitu… gw jadi kesel sendiri ama si istri. Seolah-olah kemarahannya dibuat-buat. Kalo dia emang semarah itu, akhiri ajah semuanya. Gak usah kasi kesempatan lagi. Bahkan parahnya, ngediemin. Ngasi lampu merah enggak, lampu hijau enggak… bahkan lampu kuning pun enggak.

Dari satu buku itu yang menurut gw c cukup tebel… isinya ya cuma sekitaran itu ajah. Ada lah ya konflik dikit si Ale sama bapaknya. Terus ada kisah mereka jugak pas bulan madu ke luar negri (gw lupa di mana–maap yak), tapi itu bikin gw agak jengkel c… berasa tempelan doank soalnya. Memperlihatkan kehidupan glamor mereka. Belum lagi, bahasa indonesia sama bahasa inggris yang dicampur2. Sangat terlihat berkelas. Entah kenapa, gw ngerasa agak muak. Mungkin karena gw gak bisa gitu? atau karena gw cuma bisa nulis pake bahasa inggris yang cuma jadi sisipan semacam “Well”, “Okey”, dan sejenisnya? Apa pun itu, gw agak2 ngerasa muak.

Walo gw nulisnya kayak gitu, pendapat di atas cuma masalah selera pribadi lhoh ya… Faktanya, buku ini ditulis ama author yang udah gak diraguin lagi. Penulis best-seller! Jadi pastinya rangkaian kata per kata bakal kamu nikmati. Terus kenapa gw kasi opini yang menggiring opini negatif?! Hmmm… bukan menggiring c yah. Gw kan cuma nyatain pendapat. Itulah yang gw rasain. Dari alur penceritaan dan tema yang diangkat, kerasa beda ama novel kebanyakan. Walo gitu, kesan “pop”-nya masih kerasa.

Jadi yaaah… gitu deh. Buat gw novel ini, mayan buat bacaan waktu senggang (dan buat gw, harus dipastiin bener2 senggang–kalo di waktu senggang kayak waktu sebelum tidur atau hari minggu setelah sebelumnya hectic, gw pastiin gw bakal lempar nih buku). Bukan buku yang pengen gw punya. Beruntung gw bacanya pas lagi cuti, dan ga sengaja nemu di rak buku lemari si teteh. Jadi yaa ga terlalu berasa sia-sia lhah… Oke gitu ajah… putusannya, 2 bintang gw kasih buat kehidupan glamor Tanya, Ale, dan juga Aidan yang sedang dirundung masalah…

2-stars

[Resume Buku] 18 VS 29; Loving You, Forgetting You

Diambil dari Goodreads

Judul: 18 VS 29; Loving You, Forgetting You
Author: Ji Su-hyun
Penerbit: Qanita (PT Mizan Pustaka)
Harga Beli: 31.500

Resume:
Dalam pandangan orang lain, Hye Chan bisa jadi seorang wanita yang sangat beruntung. Ia memiliki suami seorang Sang Yeong, aktor ternama dengan sejuta keunggulan dari seorang pria. Hanya saja, pandangan orang bukanlah apa yang bisa Hye Chan rasakan. Hidup bersama Sang Yeong dengan sifatnya yang buruk, membuat Hye Chan mengajukan surat perceraian untuk hubungan mereka yang telah berjalan lebih dari setahun.

Ketika manusia dapat berencana, faktanya, takdir bisa menjadi sebuah hal yang tak disangka. Hye Chan mengalami kecelakaan mobil tepat saat ia ingin mengajukan surat perceraian yang telah disetujui kedua belah pihak. Kecelakaan mobil yang membuat ia kehilangan sebagian ingatannya. Setelah kecelakaan tersebut, Hye Chan bukan lagi seorang wanita berusia 29 tahun. Baginya, ia merupakan gadis 18 tahun dengan suka duka masa remaja.

Bagi Hye Chan, sekarang ia harus menjalani hidupnya sebagai wanita menikah 29 tahun, dan mulai belajar memahami apa saja yang telah ia lakukan. Mulai mengenal sosok Sang Yeong dengan prilakunya yang jauh dari apa yang sering diperankannya sebagai aktor ternama, mulai memahami arti keberadaan adik dan adik iparnya, juga mulai menerima “kasih sayang” dari sang kakek mertua. Semua itu dijalani Hye Chan… termasuk keinginan Sang Yeong untuk hadirnya sang buah hati dalam hidup mereka.

Ketika Hye Chan mulai mempelajari dan menerima hidupnya, bahkan ketika sang buah hati mulai menampakkan tanda kehidupannya, ia menemukan kenyataan pahit tentang perceraian yang harus ia lakukan. Ingatan tentang perceraian itu tidak pernah ada, tapi saat itu ia telah mengetahui faktanya. Ketika semua hal begitu sulit untuk dikomunikasikan, bagaimana mereka menghadapi semuanya? Apakah hal yang menjadi pokok utama hingga kata cerai harus menjadi bentuk penyelesaian? Benarkah kedekatan Sang Yeong dengan Ji Won adalah salah satunya? Akankah perasaan cinta itu hanya bisa kembali setelah Sang Yeong benar-benar tiada?

Opini gw:
Abaikan resume yang parah bin lebay di atas. Intinya, ceritanya mirip filem drama korea. Imajinatif plus mengharu-biru dengan sedikit “ledakan” di akhir cerita. Lumayan. Gw sendiri nilai nih buku kayak film Full House. Ada aktor ganteng nan terkenal, punya istri penulis skenario drama, terus ada 2 tokoh pendamping (adik masing-masing tokoh utama), dan 2 tokoh pendamping pasangan. Well, mereka gak persis sama… tapi yaaa bisa lah dianalogiin. Bedanya, kalo full house mereka nikah kontrak trus tiba2 jadi cinta, kalo buku ini mereka dah nikah beneran, cerai walo gak jadi, terus mulai mencari arti cinta lagi di antara keduanya. Gitu.

Gimanapun, ngebaca buku ini, lumayan buat ngisi waktu senggang. Bisa diputus kapan aja, karena ceritanya gak terlalu mendebarkan, apalagi bikin penasaran. Buat gw lhoh ya… Ada sedikit “fakta mengejutkan” pas deket2 ending, bahkan ada juga adegan action… tapi semuanya yaaa biasa ajah. Gak tau apa karena seri translasi atau karena yaaa emang kurang seru ajah. Tapi mayan lah buat nambah referensi novel korea.

Buat tokoh2nya sendiri, gw agak2 gimanaaa gitu. Kelabilan anak 18 tahun di tubuh ibu2 umur 29 tahun kurang terasa, trus gantengnya si aktor agak2 kurang c deksripsinya. Menurut gw c yah. Chemistry di antara keduanya juga biasa aja. Kebaikan sang adik ipar atau eksistensi tokoh pendamping juga masih dalam tahap oke buat gw. Gak yang gimana banget. O iya, buku ini masuk ke kategori level dewasa. Jadi buat yang remaja atau bahkan lebih muda, baiknya gak baca novel ini dulu, yah.

Jadi… begitulah, singkat postingan, 3 bintang buat buku yang ternyata baru bisa gw tamatin dalam waktu 3 bulan.

3 Stars