[Review Buku] Pengurus MOS harus Mati

Judul: Pengurus MOS Harus Mati
Author: Lexie Xu
Jumlah Halaman: 304
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Resume:
Hanny Pelangi mendapat tawaran bergabung menjadi pengurus elite di sekolahnya, yaitu menjadi panitia MOS (Masa Orientasi Sekolah). Tawaran ini merupakan kehormatan sendiri bagi Hanny karena Hanny adalah siswa biasa yang tidak aktif di keorganisasian. Selain itu, faktanya tidak semua anggota organisasi bisa menjadi panitia MOS. Bahkan, dari 50 anggota OSIS, hanya 17 orang yang terpilih untuk menjadi panitia MOS. Dan salah satunya, Benji, sang ketua OSIS SMA Persada Internasional, dan juga pacar Hanny. Pada kegiatan tahun MOS di masa kepemimpinannya, Benji menginginkan acara MOS yang tidak biasa untuk dilaksanakan di sekolah. Ide yang diberikan adalah, pelaksanaan MOS yang dilakukan selama 6 hari yang menyiksa, dan di hari terakhir, puncaknya terdapat party yang tidak terlupakan sehingga menjadi moment penting bagi siswa/siswi baru.

Strategi untuk “menyiksa” anak-anak baru ini adalah dengan membentuk cerita-cerita misteri, horor, dan mengerikan. Setelah cerita tersebut disebarkan, beberapa kelompok anak harus terlibat untuk mengalami kejadian horor tersebut. Setiap cerita dikarang oleh beberapa panitia MOS yang diketahui oleh seluruh panitia MOS tersebut. Ide tersebut tentu saja tidak biasa, sehingga menimbulkan pro dan kontra. Kritik tajam berasal dari Frankie, satu-satunya siswa kelas 10 yang bukan siswa baru (tinggal kelas). Frankie bergabung atas saran kakaknya, Ivan yang juga menjadi panitia MOS dan aktif di kegiatan kesiswaan untuk bidang atletik. Walaupun demikian, acara tersebut tetap berlangsung sesuai dengan arahan ketua OSIS (dan juga ketua panitia MOS–mungkin).

Hari pertama, kegiatan “penyiksaan” berjalan lancar. Sampai cerita horor pertama diperdengarkan. Setelah cerita tersebut disampaikan, cerita seram tersebut menjadi kenyataan, bahkan menimbulkan korban, termasuk panitia MOS itu sendiri. Termasuk Hanny Pelangi. Walaupun muncul korban, kegiatan MOS tetap dilaksanakan di hari berikutnya dengan spirit “menyiksa siswa baru hingga mendendam pada panitia MOS”. Keputusan yang tidak tepat, karena selama kegiatan dilaksanakan, panitia MOS yang mengarang cerita seram itu sendiri yang menjadi korban akan ceritanya. Dan bukan panitia MOS saja yang menjadi korban, tapi juga orang di sekitarnya.

Frankie yang melihat pola atas jatuhnya korban tersebut mencoba mencegah jatuhnya korban yang lebih banyak. Bersama Hanny, Frankie mencoba menghadapi semuanya. Akan tetapi hal tersebut sia-sia. Kejadian seram tetap menjadi kenyataan, dan beberapa suspect muncul hingga puncaknya, cerita seram terakhir menguak siapa dalang dari semua kejadian-kejadian mengerikan tersebut.

Opini:
Bagus. Keren… tapi ga sekeren itu. So so lhah.. itu yang kepikiran di saya pas namatin buku ini. Mungkin saya membaca buku ini dengan harapan lebih, dan sayangnya hal tersebut tidak tercapai. Buku ini merupakan seri kedua dari seri “Johan Series”, dan rasanya ga ada hal baru yang ditawarkan author di buku kedua-nya dibandingkan buku yang pertama. Ada sedikit “humor”, cerita mengerikan, penuh aksi, red-herring layaknya novel misteri (sumpah, ini ganggu banget), dan twist di akhir cerita.

Akhirnya yang ngegantung jadi petunjuk kalau “Johan Series” belum tamat. Dan saya agak sedikit keganggu sama fakta ini. Secara pribadi, saya ga suka cerita yang bikin penasaran dan gantung. Sukanya sama ending yang “selesai” dan berakhir bahagia. Minimal, feeling-nya kayak “satu akhir cerita merupakan awal dari cerita yang lain” lhah.. itu ga masalah c.. karena walau bersambung, tapi udah selesai. Dan buku ini ga gitu.. karena si tokoh utama antagonis-nya malah belum muncul. Cuma muncul namanya doang.

Cara penceritaan dari sudut pandang Hanny yang terlalu “apa-adanya” dan penuh glamoritas, bikin cerita ini enak buat dibaca. Beberapa reader mungkin justru ga suka yah.. karena penceritaanya bikin cerita seramnya jadi lebih “light” dan jadi kurang berasa cerita thriller/misteri. Walau gitu, justru hal itu yang bisa bikin saya namatin buku ini dari awal sampai akhir, bahkan masih mau baca seri selanjutnya.

Overall, ceritanya bagus, tokohnya punya karakter yang “ngalir”. Kejadiannya enggak masuk akal. Itu pasti yah. Soalnya dari buku 1 pun, cerita ini udah keliatan ga masuk akalnya. Cerita sampingan berupa kisah cinta tarik ulur antara Hanny dan Frankie pun lumayan menghibur. Cuma yaaa itu. Ga ada hal baru yang disampaikan di sini. Dan bahkan muncul red-herring yang ga total di sini. Kalau kamu baca resensi-nya di goodreads, bilangnya… semua petunjuk mengarah ke Jenny, sahabatnya Hanny. Tapi, kalau ga salah ingat, cuma butuh beberapa halaman aja sampai “petunjuk palsu” itu menemukan kesaksiannya yang ga berdasar. Well, itu spoiler c. Tapi jelas banget ini ngeganggu. Kayak red-herring tapi berasa bukan. Yah gitu deh.

Singkat cerita… 3 bintang buat novel dengan cerita seram yang penuh adegan manis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s