Tarif

Sebagai orang yang berenang di dunia IT (iya, berenang–soalnya kalau pakai bahasa “terjun” udah biasa), saya ngerasa ini tuh dunia yang dinamis banget yah. Mulai dari teknologi-nya, metode-nya, sistem-nya, requirement-nya, bahasa yang dipakai, variasi keilmuan, implementasi. Banyak banget hal-hal yang bisa ditekuni untuk dipelajari. Walau basic-nya tetap hal2 remeh semacam perulangan, pengkondisian, konsep variabel & konstanta, dll. Mungkin bukan cuma dunia IT aja c yang gini.. dunia keilmuan lain kayaknya juga sama ajah. Paling.. apa yah yang keilmuan yang ga berkembang dari segi materi? uhmmm.. mungkin “agama” kali yah. Implementasi mungkin berkembang menyesuaikan kondisi. Terus dilengkapi sama analogi2 yang menyebabkan munculnya hukum boleh atau enggak-nya sesuatu untuk dilakukan. Tapi walaupun gitu… teori pasti sama kan yah?! Soalnya, kalau ada teori baru dalam satu agama, bisa jadi ntar di-cap sesat, minimal rusuh lhah. Masalah kata kafir & non-muslim kemarin, sampai ribut kan yah.. 😐

Apapun itu, kita ga bahas isu agama itu… kita balik lagi ke ceritanya… tentang exist-nya saya di “dunia” dengan 2 huruf itu. Jadi, saya ngerasa banyak banget varian di bidang IT. Keilmuan itu pasti! Tapi yang lebih variatif lagi, itu… tarifnya! Sebenernya ga jauh beda c yah sama kerjaan di bidang lain… contohnya, kayak kerjaan di bidang kesehatan deh.. gaji perawat RS kelas A, pastinya lebih gede kan yah dibanding perawat yang kerja di RS kelas D. Gitu juga di IT. Sama! Tapi, penentuan tarif ini beneran bisa beragam banget. Karena orang-orang di dunia IT, terutama di bidang software programmer, bisa ngambil kerjaan yang dikerjain secara remote, dari luar negri dengan tarif dolar. Walaupun secara rate masih rendah, tapi kalau ngikutin kurs, lumayan to the moon.

Okeh… itu hal masuk akal. Dan kenapa pembicaraan tentang tarif ini bisa masuk dalam tulisan di blog ga jelas ini?! Jawabannya ga lain ga bukan, karena blog ini emang ga jelas! Hehehe…

Enggak.. nggak yah, balik serius deh… jadi, mulai tahun kemarin, ceritanya saya agak “serius” nge-garap kerjaan tambahan. Mulai dari yang ga ada hubungannya ama dunia IT, semacam dagang jadi re-seller makanan cemilan sehari2, dan ngambil kerjaan lain yang masih di bidang IT semacam jadi trainer atau part-time programmer. Di sini lah, saya tuh baru ngerasa, ternyata luasnya dunia IT juga berdampak pada pembiayaan hidup para part-timer yang semakin beragam.. Dan keragaman yang dulunya (biasanya) ditentukan oleh pelaku kerja (si part-timer maksudnya), sekarang ditentukan oleh pelaku usaha.

Kenapa saya bilang gini, karena, 2 hari lalu… iya, beneran baru kemarin2 banget! Saya dapat tawaran buat jadi part-time programmer buat nge-train data di ANN plus GA. Teknis kerjaan, masih samar sebenernya… tapi ngelihat yang ngasih kerjaan itu kayaknya c ituh full-focus-job dah. Uhhmm… itu istilah saya c yah, intinya… saya bekerja sebagai mitra individu yang terpisah dari perusahaan. Dia pakai prinsip black-box di sini. Kasih data, metode bebas, fasilitas mandiri, output harus ada gimana pun caranya. Samaan lhah, kira2 kayak mitra Grab/Gojek gitu… cari nafkah pakai motor sendiri, tapi difasilitasi data yang mau pakai jasa kita siapa. Dan pas prospect, dia bilang kalau saya itu pilihan terakhir dari kepanikan si pemberi kerja. Dia ga punya pilihan lain selain saya. Ya ya ya.. saya c cukup sadar diri ajah ya, kemampuan ga nyekill lhah. Hahaha…

Cerita masih belum selesai… intinya kan tarif yah. Nah, tarifnya ituh… berkisar di 1,5 – 2 juta. Uwooww! Gw ga tau ini sesuai atau enggak, tapi buat saya pribadi, ini murah pisan! Oiya, dan saya bukan expert yah! Saya ngelihatnya dari kondisi di jaman machine learning & deep learning yang lagi booming di jaman kekinian ini. Kerjaan praktisnya, pasti butuh usaha dalam demand & supply yang ga sebanding. Keliatan jelas yah, demand mah pastinya banyak! Tapi “supply” mungkin enggak. Walau jumlah praktisi plus lulusan IT itu ada banyak banget, tapi kayaknya c lebih terkonsentrasi sama programmer web, android, atau implementasi IOT di mesin-buah2an (u know what I mean). Dan buat expert data… uhmm, secara teori c mungkin banyak yang ngerti. Tapi pas masuk ranah coding, uhmm, kemungkinan.. kecil deh, angkanya. Saya ga mau bilang akhir dari negosiasi itu, jadi… berhenti di sini aja cerita bagian 1-nya yah. Iya! Bagian 1.. karena ada bagian 2 di paragraf berikutnya.

Di lain kesempatan, akhir tahun kemarin, saya juga dapat kerjaan part-timer. Dalam waktu 3 hari sajah! Jadi trainer.. dan ini tuh terima bersih ceritanya. Beda sama “mitra individu” kemarin, di sini saya “dianggap” bagian dari perusahaan walau cuma 3 hari. Iya! Kontraknya harian. Selama masa kontrak, saya difasilitasi dengan output yang udah ditentukan. Dan.. tarifnya, 6x dari cerita bagian 1. Iya, banyak c… tapi itu bayaran tim. Kita 1 tim, 3 orang. Jadi, masih 2x-nya lhah, dibanding tarif dari cerita bagian 1. Dan waktu itulah, saya jadi kepikiran sendiri. Gimana sebenernya sistem part-time sekarang yang umum. Kalau dulu, rate ditentukan si part-timer, jadi si pemberi kerja cuma take-him/her or leave-him/her. Pandai2 si pelaku kerja lhah. Kalau sekarang, kayaknya c beda yah.. apalagi sejak ada perusahaan dengan konsep “mitra” ini, belum lagi dibekali regulasi dari pemerintah. Jadi.. makin seragam ajah rate-nya.

Begitulah… intinya, mau curhat aja c. Baru dapat tawaran kerjaan tambahan. Itu aja. Hehehe… tapi seriusan, saya tuh kepikiran sistem penetapan honor part-timer di Indonesia sekarang, khususnya area WIB kalau lokal tuh gimana yah? Buat kamu yang tahu, boleh lhoh yah kasih infonya di kolom komentar. Biar part-timer lain yang ga sengaja mampir ke tulisan ini juga tahu infonyah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s