Tombol Undo

Pernah kebayang kalo hidup itu tersedia dengan tombol undo yang bisa kamu tekan ketika kamu membutuhkannya?

Dari dulu… gw selalu dikasih suguhan cerita tentang orang2 yang berharap kalo hidup itu menyediakan suatu pilihan untuk menekan tombol “undo”. Pilihan yang nantinya bikin mereka bisa mengulangi semuanya, mencoba segala kemungkinan sampai gak lagi mengenal arti dari kata “penyesalan”…

Tapi… yang gw liat, hidup itu… penuh dengan orang2 dengan berbagai filosofisnya masing-masing.

Ada orang2 berfikiran terbuka, yang akan belajar untuk tidak menekan tombol “undo” walaupun mereka terkadang menginginkannya. Mencoba mempelajari untuk mencapai rasa ikhlas sebagai bentuk penghakiman yang terbuka dari rasa penyesalan. Orang-orang pintar yang belajar dari pengalaman kehidupan. Menurut mereka, ada banyak cara untuk membereskan sesuatu, dan pastinya bukan dengan cara… kembali ke state awal.

Ada juga orang2 yang berfikiran bijak, mereka mungkin tidak berharap ada pilihan “undo”. Menurut mereka, kesempatan untuk mengulang dan menjalani hidup dengan cara yang berbeda (atau mungkin juga sama), tidak akan membuat mereka mencapai state kekinian yang mereka rasakan. Mereka orang2 yang penuh dengan rasa syukur. Sangat bijak!

Dan di antara mereka, masih ada orang yang masih mengharapkan keberadaan tombol “undo” tersebut.

Tapi yang jelas, di antara sebagian besar orang dengan filosofisnya, ada lho orang yang ternyata berhasil menekan tombol undo tersebut, dan sekarang berusaha untuk mencari tombol “redo”, sebagai bentuk pencarian bagaimana cara dia menekan tombol undo! Ini tipe orang yang kayaknya lagi bingung ama idupnya sendiri.

Well… dari sekian banyak… yang paling gw senengin itu orang2 yang gak bikin orang lain berharap adanya keberadaan tombol “undo”. Mereka yang gak pernah bilang “Apa gw bilang?!“, “Tuh kan?!“, “Kenapa gak <jelasin cara mereka nyelesaiin masalah>“, dan hal2 sejenis lainnya. Kalo ajah orang2 kayak gitu gak exist di muka bumi, mungkin idup jadi lebih damai, dan rasa penyesalan akan hanya dijawab dengan kata maaf dan menjadi media pembelajaran yang tepat untuk mencapai rasa keikhlasan.

Tapi… lagi2 tapi… kayaknya, harapan gw itu… yaaa… bakal jadi angan2 semata aja dah…. Kalo aja rasa percaya itu ada, atau minimal… idiom “put oneself in someone’s shoes” itu nyata dilakuin, mungkin gak bakal gini jadinya. But hey… gw cuma manusia yang gak seharusnya menggugat keputusan Tuhan tentang takdir yang udah ditentukanNya, kan?! Jadi… well, mari kita akhiri postingan ini dengan rasa syukur untuk hidup yang kita jalani tanpa didampingi keberadaan tombol undo 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s