[Review Buku] Pukat

Diambil dari goodreads

Judul: Pukat
Author: Tere Liye
Penerbit: Republika
Tahun: 2010

Resume:
Pukat, anak ke-2 dari 4 bersaudara…. Seorang anak laki-laki yang dibesarkan untuk menjadi anak pintar oleh orangtuanya, Pak Syahdan dan Mak Nurmas. Yahh… dan inilah kisah Pukat si anak pintar yang bisa menghubungkan setiap kejadian dan menemukan jawaban dan setiap pertanyaan.

Penceritaan dimulai dengan Burlian dan Pukat yang menaiki kereta ke kota. Pukat menyelesaikan sebuah perkara pelik, yaitu pembajakan di kereta. Berkat bantuan dan kecerdikan Pukat, pelaku pembajak dan perampokan di kereta dapat dikenali dan ditangkap dengan mudah. Tapi bukan hanya itu… Pukat juga bercerita tentang dirinya di sekolah, persahabatan dan pertengakarannya dengan Raju, pertemuannya dengan Saleha, cerita tentang kasih sayang seorang Ibu, dan pastinya tentang nilai luhur yang harus dikenang. Dan ketika masuk di tahap akhir, Pukat akan menyindir pembaca kisahnya… menyama-nyamakan pembaca kisahnya dengan apa yang ia pikirkan tentang adiknya, Burlian.

Opini gw:
Satu lagi buku yang menceritakan tentang anak-anak Mamak. Setelah buku yang pertama, Burlian, authornya melanjutkan kisah serial anak-anak Mamak dengan kisah kakak Burlian, Pukat. Berbeda dengan kisah Burlian yang tidak terlalu jelas bagaimana ia dibesarkan, kisah Pukat diceritakan dengan pemahaman hitam di atas putih, bahwa ia dibesarkan untuk menjadi si Pintar dalam keluarganya.

Seperti kisah anak-anak Mamak lainnya, kisah ini penuh dengan nilai-nilai luhur dan penceritaan bagaimana menghargai alam, juga menghormati pengorbanan serta kasih sayang orangtua pada anaknya. Dan karena ini cerita tentang si anak pintar, semuanya diceritakan dengan penuh kesombongan dan penghargaan terhadap diri sendiri. Kalo boleh jujur, gw cukup muak buat apa yang diceritakan Pukat tentang dirinya.

Bukaaaannn… bukan tentang bagaimana ia bercerita kondisi sekitar… tapi lebih ke perasaan yang ditawarkan pas dia menceritakan dirinya sendiri…. tentang bagaimana dia menjawab teka-teki Wak Yati, tentang ide untuk warung Ibu Ahmad, tentang keputusan yang harus dia ambil saat membuka hutan, ataupun saat ia berjualan di pasar kalangan. Walo pas kejadian berjualan, dia harus mengakui kalau teorinya tidak sesuai praktis yang berlangsung. Dan yang paling penting, sifat Pukat pas di akhir kalimat penutup bagian epilog. Dih… asli bikin kesel! Bukannya dia yang bilang di tengah2 kalo dia kehilangan?!  (sorry, gw gak bakal jelasin lebih lanjut… ini lebih seru kalo kamu baca sendiri).

Untuk kata-kata dan deskripsi cerita yang digunakan, masih khas-nya Tere Liye. Kamu bakal terbawa hanyut di setiap kata, dan tiba-tiba bakal senyum sendiri… atau bahkan ngerasa air mata udah netes tanpa kamu sadari. Atau yang lebih parah, kamu tau-tau udah ngerasain yang namanya time wrap. Gak nyadar kalo udah beda hari ajah sejak kamu baca nih buku.

Tapi… rasa kecewa gw buat novel terakhir Tere Liye yang gw baca, akan muncul kembali di novel yang ini… Terlebih pas Pukat bilang kalo pembacanya musti menghubung2kan setiap kejadian. Setelah gw cek, latar waktu yang ada di buku ini masih sama parahnya kalo dihubung2in sama latar waktu di buku Burlian. Ini udah gw alamin di tengah-tengah pas ngebaca buku ini… makanya, gw sempet ngambeg nerusin baca nih buku. Dan sekarang gw terusin karena menurut deadline, jumlah buku yang musti gw baca masih kurang 4 daripada target yang seharusnya… dan cuma buku ini yang ngegantung statusnya. Jadi mau gak mau… biar cepet, gw tamatin ajah. Gw gak bakal spesifik ngejelasin di mana, tapi kejanggalan keliatan pas waktu gw ngebaca tentang perkelahian tentang shio. Hhhhh… kamu sambung2in aja sendiri. Asli lah… pas waktu gw itung2, gw jadi ngerasa ajah buku ini sampah! Padahal sayang banget… buku ini aslinya bagus! Belum lagi pas waktu adegan di pasar kalangan…. gw jadi inget masa kecil gw.

Dan terakhir, komentar sinis gw ada di bagian penutup. Pentup! Bukan epilog! Gw gak sukak akhir yang sedih… So, makin ajah gak sukak ama buku ini. Walo lagi2 yaaa tadi…. ini buku punya cerita yang bagus banget lhoh, ya… jadi bebas kamu bilang gw gak adil nilai atau gimana, tapi penilaian gw yaaa suka2 gw kan? Banyak kok yang bilang buku ini bagus. Dan gw bukan salah satu dari yang banyak itu. O iya, gw jugak bermasalah ama epilog plus typo yang masih bertebaran walo minimal. Masih dalam batas toleransi lhah.

Dengan penjelasan di atas, mari gw tutup postingan ini dengan kata-kata: “Cukup 1 bintang untuk Pukat yang merasa dirinya pintar!”

1 Star

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s