[Review Buku] Ayahku (Bukan) Pembohong

Diambil dari goodreads

Judul: Ayahku (Bukan) Pembohong
Author: Tere Liye
Jumlah Halaman: 299

Resume:
Dam kecil hidup dalam asuhan cerita-cerita penuh makna yang disampaikan Ayah padanya. Dengan cerita-cerita itu, ia tumbuh menjadi anak yang memiliki motivasi tinggi dan kelapangan hati tanpa penuh iri. Dam dididik dengan baik oleh Ayahnya. Ibu Dam juga seseorang yang membuat hidup Dam menjadi sangat berarti walau hanya mendampingi Dam sampai ia akan lulus sekolah setingkat SMA.

Cerita-cerita Ayah sangatlah luar biasa. Dalam petualangan yang pernah ia lakukan serta pengalaman hidup yang pernah ia rasakan, Ayah memiliki cerita yang memikat dan tentu saja memiliki hikmah dan arti yang bisa dipetik darinya. Ayah menceritakan tentang Lembah Bukhara dan suku Penguasa Angin untuk mengajari Dam arti dari sebuah kesabaran. Cerita tentang Ayah yang mengenal Sang Kapten, idola Dam masa kecil untuk membesarkan hati Dam bahwa ia tidaklah sekecil yang ia duga. Cerita Ayah tentang si Raja Tidur untuk memotivasi Dam menjalani hidup dan menimba ilmu dengan sebaik-baiknya. Dan cerita terakhir Ayah tentang Danau Sufi yang mengajarkan Dam tentang arti dari kebahagiaan.

Semua cerita Ayah begitu luar biasa. Dam mempercayainya, sampai ia cukup mengerti untuk mempertanyakan kisah-kisah hebat sang Ayah yang seolah hanya berada dalam negeri dongeng. Bias menjadi semakin terlihat ketika Dam harus menelan pil pahit akan kematian Ibunya. Dam menyalahkan keyakinan Ayah akan cerita-ceritanya yang ia tidak yakini pernah terjadi. Kesedihan membuat ia berfikiran buruk untuk semua cerita Ayah yang telah mengajarinya bagaimana cara hidup yang luar biasa.

Kekesalan Dam mencapai puncaknya ketika Ayah menceritakan cerita-cerita itu kembali pada anaknya, Zas dan Qon. Dam mengusir ayahnya sendiri dari rumahnya karena ia tidak suka mendengar cerita-cerita penuh makna tersebut, sampai sang Ayah harus dirawat di rumah sakit dan menceritakan cerita Danau Sufi sebagai cerita terakhirnya. Dan di akhir cerita, Dam akan mengetahui akan kebenaran dari cerita-cerita Ayah untuknya.

Opini gw:
Well, beribu maaf buat pembaca review yang belum baca buku ini. Gw penuh spoiler di bukunya. Tapi, kalo ngeliat cover dari nih buku, udah ketebak lha yah cerita sama akhirnya bakal gimana. Karena, sebenernya, menurut gw… concern dari nih buku justru cerita-cerita penuh makna Ayah kepada Dam. Sangat memikat dan yah… penuh makna. Apalagi coba?!

Butuh waktu 3 bulan buat gw buat namatin nih buku. Waktu yang lama… bukan karena gw lagi sibuk atau apa… tapi lebih karena gw gak minat buat nerusin bacanya. Yaaa.. sebenernya kondisi di kantor lagi hectic juga c. Tapi, pas gw mulai baca buku ini, kondisinya sama sekali kondusif buat baca 2 atau 3 buku sampai masa hectic itu berlangsung. Satu-satunya yang bikin gw pengen namatin, cuma gara2 spoiler dari temen yang bilang kalo endingnya bakal “Wow”. Dan ternyata… well, gw kecewa karena gw mendengarkan temen yang gw tau banget kalo dia itu lebay abis kalo dah bias ke satu hal. Lagipula, seharusnya gw gak dengerin kata2 dari seseorang yang selalu bilang kalo “orang korea yang cakep tuh pasti oplas”! Gw bahkan gak nyangka ajah, gw masih bisa anggap dia temen dengan judgement gitu… yang jelas2 dia omongin depan idung gw.

Masih menurut temen gw, kekecewaan gw terjadi karena gw terlalu banyak nemu hal negatif dari hal ini. Belum lagi, gw punya ekspektasi sangat tinggi buat penulisnya yang bikin gw terkagum-kagum sama karyanya yang lain, “Negeri Para Bedebah”. Dan ya! gw mengakui itu. Ekspektasi gw sangat tinggi. Dan buku ini, sangat menjatuhkan nama seorang Tere Liye. Menurut gw c yah… Karena gw ngerasa buku ini asal ajah dibikinnya. Gak pake proofread, gak pake jasa editor, kecuali editor bahasa. Dan kalopun pake, kemungkinan arogansi si Tere Liye lah yang bikin buku ini jadi begitu hina buat melekat sebagai karya sang penulis. Asli! Gw gak nyangka buku ini bener2 ditulis ama Tere Liye.

Mungkin kamu bertanya2 apa c tepatnya yang bikin gw kesel banget ama nih buku… Oke, gw jelasin. Pertama, penggunaan kata yang gak tepat. Contohnya… Kata “peras” yang digunakan. Kata itu berasa gak cocok diaplikasiin ama kata susu atau sapi. Lebih tepatnya kalau pake kata “perah”. Walaupun bersinonim, tapi tetep ajah.. gak cocok. Contoh lain pas ngegunain kata “data”. Gw gak komen lah buat ini.

Kedua, buku ini sangat tidak mementingkan detail latar waktu. Sangat mengabaikannya. Dan itu irritating lah buat gw. Bahkan, gw yang biasanya nangis buat scene2 kalo ada yang ditinggalkan, khas Tere Liye, justru sekarang jadi bikin gw eneg sendiri. Jadi pengen ngomong: “Masih bisa bikin adegan nangis2 pas semuanya udah gak masuk akal?!” Gak banget lah!

Ada banyak bertabur c yah latar waktu yang gak masuk akal itu.. silakan baca sendiri kalo mau tau. Tapi kalo mau tau, ini beberapa yang kecatet di updatean status gw pas baca nih buku:

  1. Ada penggunaan Alur flashback yang gak wajar. Di awal bab, digunakan kata2 “30 tahun lalu”, terus di tengah2 tiba2 jadi “20 tahun lalu”. Gw kira ini scene-nya beda. Ternyata enggak. Dua latar waktu dengan merujuk ke satu waktu yang sama?? Gosh! Ini membingungkan dan menyebalkan karena gw yakin, ini salah satu bentuk typo.
  2. Umur Dam yang beda pas di awal (pas lulus SMP) sama di deket akhir2 (pas kelas 3 SMA)
  3. Keberadaan Raja Tidur. Ayah bercerita bahwa Raja Tidur lah yang menginspirasi beliau untuk menemukan lembah Bukhara dan lainnya. Si Raja Tidur merupakan dosen yang Ayah kenal saat ia mengambil beasiswa luar negri. Padahal… Ayah berpetualang sebelum mendapat beasiswa di luar negri.
  4. Raja Tidur dan Ibu… Ayah bercerita pada Dam remaja bahwa Raja Tidur mendatangi Ibu dan mendiagnosis penyakitnya. Tapi, di akhir cerita, Ayah bercerita pada Dam dewasa, bahwa Ayah yang mendatangi Raja Tidur untuk memeriksa Ibu. Well, gw agak toleran ama yang ini sebenernya, tapi yang gak bisa gw tolerir adalah latar waktu. Kepada Dam remaja, Ayah bilang Raja Tidur mendiagnosis Ibu 6 bulan setelah pernikahan mereka. Sedangkan pada Dam dewasa, Ayah bilang Raja Tidur mendiagnosis setelah setahun pernikahan mereka.

Dan itu cuma 4 contoh dari taburan ketidaklogisan latar waktu yang diceritakan di buku ini. Gw gak peduli lah ya sama latar tempat atau cerita2 fantasi penuh makna. Gw cukup menerima hal-hal fantastis yang mendebarkan. Tapi sama sekali gak bisa terima kalo itu udah menyangkut kronologis cerita.

Dan untuk endingnya, gw udah wanti2… Kalo ajah endingnya gak sesuai ama perkiraan gw, nih buku gak gw kasi bintang sama sekali. Dan well, ternyata…. singkat postingan, gw kasih 1 bintang buat buku sampah ini!

Tolong lah yah… buat yang gak setuju. Bukan ceritanya yang memuakkan. Justru idenya bagus. Tapi alurnya itu yang bikin frustasi. Belum lagi, ekspektasi gw yang tinggi. Semua itu bikin gw gagal ngerasain feel yang kebanyakan reader goodreads rasain. Yang bahkan ngasi 4 sampai 5 bintang. Dan guyz… gw bukan pengkritik buku. Gw cuma penikmat buku. Jadi jangan lo bilang: “Coba bikin buku… bisa gak ngehasilin yang lebih baik. Bikin dulu, baru ngekritik”. Plizz, gw penikmat! Jadi cuma bisa komen! Gw bahkan gak mengkritik.

Dah lah yah… sorry kalo kita beda. Sekali lagi, cukup 1 bintang buat buku sampah dengan ceritanya yang penuh makna!

1 Star

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s