[Review Buku] Little Men

Diambil dari goodreads

Judul: Little Men
Author: Louisa May Alcott
Penerjemah: Mutia Dharma
Harga Beli: 32.000 (gak tau harga normal atau diskon)
Halaman: 453
Cetakan: 1/2011
First Published: 1 January 1871

Resume:
Beberapa anak laki-laki berbagai usia hidup di Plumfield. Franz yang dewasa, Emil yang mudah marah, Demi yang terpelajar, Daisy yang manis (saudara kembar Demi), Rob si kecil yang penuh energi, Teddy si bayi yang lucu, Dick yang bungkuk tapi begitu riang, Dolly yang gagap tapi sopan, Jack si penipu ulung yang suka berbisnis, Ned yang kacau, George yang rakus, dan terakhir tapi bukan yang paling akhir… Billy si “polos”. Seiring berjalannya waktu, Plumfield mendapat tambahan murid. Nat si seniman jalanan yang terlantar, Dan yang liar tapi membutuhkan kasih sayang, juga Nan yang tomboy.

Mereka hidup dalam asuhan suami-istri Bhaer di sekolah bernama Plumfield. Sekolah yang tidak biasa karena menggabungkan antara pendidikan perempuan dengan laki-laki di jamannya. Mereka memiliki aturan sendiri untuk ketidakteraturan yang dibuat oleh anak-anak asuhan mereka. Dan pastinya, setiap anak-anak saling berbagi untuk belajar tentang arti etika dan sopan-santun serta kasih sayang di sekolah tersebut.

Plumfield begitu indah, sehingga membuat Nat sebagai penghuni baru merasa begitu diterima di sana. Dan hari-hari berlangsung indah di Plumfield dengan berbagai kejutan yang tidak bisa dibayangkan. Dan bukan hanya itu, Pak Bhaer menanamkan arti kejujuran dengan cara yang tidak biasa pada Nat…

Seiring berjalannya waktu, Nat mengajak kenalannya Dan untuk bergabung ke Plumfield. Ibu Bhaer yang baik akhirnya menerima Dan walaupun kenyataannya Plumfield adalah sekolah biasa… dan bukan tempat penampungan. Dan diterima dengan baik walaupun Dan tidak dapat menerima perubahan dirinya sendiri setelah berada di Plumfield…

Sepanjang perjalanan Plumfield, semua anak merasa betah di sana. Tapi… betah dan rasa kerasan tidak cukup untuk membuat mereka tetap tinggal di sana. Bagaimanapun Plumfield merupakan sekolah yang terikat dengan aturan. Beberapa siswa harus pergi dan kembali.. dikarenakan kemauan sendiri atau dengan paksaan keinginan mandiri.

Setiap bab memiliki cerita masing-masing dengan temanya sendiri. Tapi yang pasti, buku ini bercerita tentang anak-anak Inggris yang tidak biasa… baik dilihat dari segi hidup maupun kehidupannya. Sekian.

Opini gw:
Kalo diliat di bagian Pengantar yang ditulis ama Penyuntingnya, kita bisa dapatin fakta kalo buku ini udah berumur 143 tahun. Dan buku Little Men ini merupakan buku ketiga dari seri Little Women. Little Men sendiri menceritakan tentang anak-anak yang bersekolah di Plumfield. Sekolah dengan pengajaran yang tidak biasa. Kenapa?! Karena dari yang gw baca, sekolah ini sangat sangat sangat tidak Inggris. Harapan yang gw inginkan dari novel klasik dengan latar sekolah adalah tata krama yang baik dan dipenuhi anak-anak “berkelas” dengan tingkatannya masing-masing. Juga sekolah yang terpisah. Kalo bukan sekolah laki-laki yaaaa… sekolah perempuan. Kaya cerita Si Kembar atau si Badung karangan Enyd Blyton.

Tapi… ternyata yang gw harapkan sama sekali berbeda. Dan ini emang udah digambarkan di sinopsis buku c yah… Jadi gak kaget2 amat pas tau sekolah ini begitu teratur dengan ketidakteraturannya. Tapi gw agak risih ama kenyataan ada anak perempuan bernama Daisy di Plumfield. Sangat tidak Inggris. Tapi yaaa… ternyata disanalah istimewanya Plumfield. Dengan kehadiran anak-anak perempuan, anak laki-laki menjadi lebih memiliki etika dan tata krama secara alami. Paling gak, itulah yang diceritakan di sini.

Gw skip ceritanya, coz udah ada garis besarnya di resume, dan menurut gw ceritanya c pas. Cukup Inggris walau tema yang diangkat cukup berbeda dari novel klasik kebanyakan. Cuma dua yang gw gak sukak… Satu… sudut pandangnya gak jelas. Ya, cukup jelas sebenernya. Tapi kadang narator muncul, kadang ilang karena dialog. Ini berasa kayak nonton dongeng tipi lama2 gitu. Yah, apa yang gw harapin coba dari novel yang udah berumur 100 tahun lebih. Hal kedua… entah kenapa, walau sifat dan karakteristik masing2 tokoh udah disebutin dengan segitu jelasnya, gw masih ngerasa beberapa tokohnya belum punya karakter yang kuat untuk ada di novel ini.

Karena ceritanya gak mau gw komentarin lagi, kita lanjut ke pemilihan bahasa terjemahannya. Bahasa yang dipakai menurut gw agak2 lebay, dan di beberapa bagian, kalimat yang ada diterjemahkan terlalu apa adanya. Tidak ada pengubahan kalimat, tidak ada transalasi dari padanan kata. Dan yah… terlalu apa adanya. Jadi efek yang gw rasain kayak baca buku versi Indonesia dari buku referensi kuliah. Terlalu baku dan hmmm… agak kurang bisa langsung dimengerti. Butuh baca berkali-kali, dan untuk beberapa kalimat, gw bahkan harus mikir dulu bahasa Inggrisnya apa, baru nangkep apa yang dimaksud ama kalimat tersebut.

Belum lagi untuk penceritaan bagian narasi ama naratornya. Ini kayaknya pas kalo gw ngekhayalin versi bahasa aslinya. Tapi sangat enggak pas buat dialihbahasakan. Paling gak, penerjemahnya bikin kata2nya jadi aneh.

Penggunaan istilah jugak sama. Ada yang lebay, ada yang familiar. Contohnya yang lebay, hari thanksgiving dialihbahasain jadi hari Mengucap Syukur. Gw gak heran kalo buku ini terbit tahun 90an. Tapi kalo 2011… hmmm, kayaknya para reader udah tau sendiri apa itu thanksgiving dari filem2 Hollywood yang bisa didonlod ilegal dari internet.  Kalo contoh yang familiar pas nyebut willow tree/willows jadi pohon dedalu. Well, ini bagus… coz biasanya orang dah langsung tau itu apa itu dedalu dari novel Harry Potter. Dan, gw sukak c yah ama cara penerjemahnya nerjemahin kata2 langsung dari Teddy atau Bess yang masih balita.

Untuk editornya, gw gak tau ini bisa dilakukan atau enggak… tapi gw bermasalah sama penulisan Ibu Bhaer yang kadang2 jadi Bibi Jo, Pak Bhaer kadang2 jadi Paman Fritz atau Paman Teddy yang uhmmm… siapa namanya?? Lawrence?? Gw lupa… Gw gak tau ini boleh dilakukan ama editor atau enggak, tapi baiknya c ada catatan siapa nama asli suami-istri Bu Bhaer itu, berikut nama kecilnya. Karena kadang gw jadi ngebayangin nama2 untuk orang yang sama itu dengan gambaran orang yang berbeda. Jadi bingung sendiri dan nyimpulin sendiri kalo Bibi Jo itu nama kecilnya Ibu Bhaer. Kalopun emang ada di buku sebelumnya, sayang banget hal ini gak dicantumin di mari. Minimal di catatan kaki lhah…

Buat orang yang baru baca novel klasik (sekitaran baru bisa baca novel–10 tahun), mereka bakal kesulitan buat mahamin nih novel. Toh kalo diliat2, emang ini seharusnya dibaca anak2. Biar mereka seolah2 ada teman gitu. Terlebih ceritanya kayaknya banyak diambil dari bible. Jadi secara gak langsung mengajarkan ketulusan dari sebuah cerita gitu. Terutama pas ceritain tentang Demi dan kisah2 kakeknya. Juga tentang kejadian Tommy, Dan sama Nat. Tapi gw gak tau jugak c yah… gw kan gak relijius2 amat.

Buat yang gak ngebaca bible karena agama yang dianut, gak usah khawatir. Ini bisa dibaca semua agama, kok. Bahkan buat agama Islam, di sini disebut2 tentang Muhammad yang punya kucing banyak. Memang gak disebutin kalo Muhammad yang ini adalah nabinya umat muslim. Tapi karena yang ceritain itu kakeknya Daisy… Jadi yaaa… sama2 tau deh. Jadi sekali lagi, gw yakinin kalo buku ini bukan buku tipe “dakwah”. Kecuali kalo kamu udah skeptis duluan.

Typo bertebaran di sana-sini. Dan… ini bukan tipe buku yang pantas kamu miliki per individu. Bagusnya c kalo emang mau punya, punya aja sekalian seri semua buku. Okeh… putusannya, gw kasi 1 bintang buat buku ini. Dan… gw gak sukak karena gak ada daftar isinya. Beda sama novel yang cuma punya nama bab “Satu”; “Dua” dst, buku ini di setiap bab-nya berisi hal-hal unik yang terpisah tapi masih terkait antara satu dengan lainnya. Sangat disayangkan gak ada daftar isinya. Tapi, karena cerita dan endingnya yang lumayan, gw gak tega buat gak nambahin 1 bintang lagi. Jadi… 2 bintang untuk versi alih bahasa dari liarnya anak-anak Plumfield yang cemerlang.

2 Bintang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s