[Review Buku] Negeri Para Bedebah

Diambil dari goodreads

Judul: Negeri Para Bedebah
Author: Tere Liye
Jumlah Halaman: 433
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cara Dapat: Pinjem

Resume:
Thomas, seorang konsultan keuangan profesional harus berusaha menyelesaikan masalah yang rumit. Sebuah masalah bisnis yang dimiliki Om Liem, anggota keluarga Thomas yang tidak ingin ia sebut namanya. Masalah bisnis yang akan ia warisi karena Thomas merupakan seorang pewaris tunggal keluarga. Walaupun kenyataannya, ia tidak menyandang nama keluarga tersebut dalam identitasnya. Tapi masalah pelik itu tetap ia hadapi untuk menuntaskan ambisi pribadi.

Adegan pertama, diawali dari wawancara yang dilakukan Thomas dengan Julia, seorang wartawan profesional paling cemerlang di kantornya. Dalam wawancaranya, Thomas memaparkan cara kerja sistem keuangan di seluruh di dunia, dikhususkan dengan penjelasan dari adanya sebuah Bank. Wawancara yang membuat Julia merasa dirinya diremehkan. Lalu, adegan berikutnya adalah adegan Thomas yang menghadiri Klub Petarung. Sebuah klub eksklusif layaknya Fight Club dalam sebuah film Hollywood.

Pertarungan di Klub Petarung merupakan awal dari semuanya. Selepasnya dari pertarungan yang ia hadapi di klub tersebut, Thomas mendapati kenyataan bahwa Bank Semesta, sebuah Bank dengan kepemilikan atas nama Om Liem dinyatakan bangkrut karena manajemen yang buruk serta transaksi hitam yang sering ditutupi oleh pemiliknya. Awalnya ia merasa tidak peduli. Walaupun faktanya…ia merupakan pewaris tunggal keluarga kecilnya. Fakta yang menyatakan bahwa pada akhirnya, ia lah yang akan mewarisi hutang-hutang Om-nya.

Kepedulian Thomas untuk menyelamatkan Bank Semesta timbul karena ia melihat hal-hal yang tidak biasa pada laporan yang ia terima tentang penyelidikan akan Bank tersebut. Terutama daftar nama penyelidik yang menyelidiki kasus itu. Sebuah nama… sosok dari masa lalu yang menghampirinya kembali. Ambisi Thomas pun muncul. Menyusun strategi demi menyelamatkan Bank Semesta dan keluarga kecilnya.

Strategi Thomas bukanlah strategi yang gampang untuk dilakukan. Semuanya butuh aksi dan keberuntungan. Karena takdir bekerja dengan caranya… Dan Thomas berusaha membuat takdirnya dengan bekerja sangat keras… dimulai dari Jumat dini hari sampai Senin pagi. Hitungan detik adalah parameter yang ia gunakan.

Penyelamatan Bank Semesta pastinya tidak mudah. Ia harus menghadapi Ibu Mentri bahkan melobi putra mahkota untuk memastikan bahwa ia benar-benar meletakkan bidak caturnya dengan benar. Dan sebelum semua strategi dilakukan, ia harus mengubah persepsi masyarakat melalui media. Thomas tidak sendiri. Dalam pertarungannya menyelamatkan Bank Semesta, ia ditemani dengan pekerja setianya, Kadek dan Maggie serta sang wartawan cemerlang, Julia. Dan tidak lupa pula beberapa kenangan manis dan petuah bijak dari Opa-nya serta relasinya dalam Klub Petarung.

Dan pada kenyataannya… sebagai petarung sejati… ia memang tidak berkhianat, walau akhirnya ia akan menghadapi pengkhianatan itu sendiri.

Opini gw:
“Cuma gitu??!” Itu adalah komentar pertama gw seabis namatin buku ini. Buku pinjaman terakhir buat balasan pinjaman buku Teka Teki Terakhir. Yaa…. endingnya emang kurang c yah.. tapi mulai dari halaman 20an sampai 2 halaman terakhir, petualangan yang gw rasain gak kalah dibanding baca Harry Potter nomer 1-7. Bukan masalah tidak terduga, atau masalah detilnya deskripsi cerita. Tapi masalah seru atau enggaknya setiap kata untuk dinikmati.

Gw memang gak terlalu banyak baca buku petualangan… tapi buku petualangan yang gw baca, lebih banyak ngehasilin efek tegang yang membosankan. Itupun kalo enggak ngerasa ilfil duluan gara2 ada yang berkhianat atau gw ngerasa udah gak nyaman sama plot-nya. Atau ngerasa detil deskripsinya terlalu membosankan dengan narasi yang datar. Maklum ajah… gw tipe yang agak sulit kalo baca buku dengan genre non-romantis. Kebiasaan gw buat baca hal2 terkait kisah cinta komedi romantis dan sejenisnya, ngebikin gw jadi agak menyimpang kalo udah mulai baca buku dengan topik yang sangat berbeda. Tapi… buku ini tetap bikin gw pengen namatin bukunya walo tema yang diangkat sama sekali berbeda. Bener2 gak ngebosenin.

Gw masukin buku ini ke dalam genre adventure, karena yaaa… emang ceritanya itu tentang “petualangan”. Petualangan seorang Thomas untuk menyelamatkan Bank Semesta. Dan itu cuma dalam waktu 3 hari sajah!!! Yap!! 3 hari! Kebayang ajah lhah ya capeknya. Lebih capek daripada nonton Running Man episode awal2 (asli! gw nonton Running Man awal2 itu, kerasa aja capeknya… lari2 di mall dari malam sampe pagi hari).

Dari info yang gw dapat dari yang minjemin nih buku, katanya buku ini merupakan versi Tere Liye tentang kasus Bank Century. Pernah ingat kasus Bank ini?? Bukaaann~~ Bukan yang ada Melinda Dee! Bukan jugak kasus bankir bermasalah di suatu bank berasaskan syariah. Bukan! Ini tentang kasus Bank yang diselamatin pemerintah pas waktu mentri keuangannya itu… Sri Mulyani. Hhhh, saking banyaknya kasus negatif Bank di negeri ini… kamu malah sampe lupa yang mana?? Ckckckck…

Well, sebenernya gw jugak gak terlalu ingat dan tau c kasus Bank Century itu yah… Gw cuma ingatnya ada liputan tentang nasabah Bank Century garis ekstrim yang dengan dandanan “wah” ngelakuin aksi demo di depan Bank bermasalah itu. Dan di liputan berikutnya, dandanan dia lebih “wah” lagi… sampe bikin tato kalo gak salah. Terus ada jugak liputan tentang mentri keuangannya, yang ngadain konfrensi pers dengan tampang lempeng plus ngejawab pertanyaan wartawan dengan ketegasan disertai suatu cara penuturan kata yang sering gw denger pas gw lagi bimbingan ama pembimbing 2 gw. Bukan tipe orang yang gw hindari… tapi juga bukan yang bisa gw ajak kerjasama dengan nyaman. Oh iya, dan kasus Bank Century itu yang akhirnya bikin Ibu Mentri Keuangan turun dari jabatannya (kalo gak salah gitu kan?? trus sehabis dia turun jabatan malah dapat jabatan khusus di Bank Dunia… uhmmm… gitu kan?? atau gw salah ingat?)

Yah… begitulah~~ intinya ini kasus Bank Century versi Tere Liye.

Gw salut c yah buat pengarangnya… Cara dia ngejelasin sistem perbankan, terus sistem keuangan dunia, penjelasan tentang dampak sistemis dan beberapa hal lain. Seolah pengarangnya juga “pemain” dalam sistem keuangan tersebut. Eh, atau… jangan2… Om Tere Liye ini…. beneran ekonom ya? minimal pernah sekolah di sekolah bisnis?? gw gak tau… gw kirain dia kayak author kebanyakan yang bisa nulis. Trus buat nulisin tulisannya ngelakuin riset dimana2.

Yang paling gw seneng dari buku ini… yaitu… cara penceritaannya. Asli! Gak ngebosenin. Pas gw udah mulai muak sama petualangan2 Thomas, ceritanya alih scene jadi masa kecil Thomas. Atau alih scene dengan nyeritain cerita2 bijak dari Opa. Trus yang paling penting… jarak antar bab-nya, pas banget buat gw. Jadi gw enak ngasi jeda ke cerita selanjutnya. Porsinya pas. Gak bikin rasa penasaran tingkat tinggi kayak scene terakhir Cinta Fitri season Lebaran, tapi tetap bikin pengen tau kelanjutan ceritanya.

Karakter yang paling gw sukak di buku ini… yaitu… karakter Kadek dan Maggie. Dua tokoh pembantu setia Thomas untuk bertarung menyelamatkan Bank Semesta. Entah gimana, Kadek plus Maggie jugak, digambarkan sebagai sosok setia dan penurut dengan cara kerja yang efektif plus efisien. Hanya dengan satu perintah, mereka bisa menjalankan tugas dengan sangat baik. Keren lah! Thomas bener2 beruntung dapetin mereka. Uhhmm… dan gw jugak sukak c yah sebenernya ama karakter Ibu Mentri itu. Dia digambarkan tegas dan berprinsip. Sukak ajah… walo gw c pasti males banget berhubungan ama orang tipe kayak gitu 😀

Balik ke bukunya, gw agak gak sukak sama covernya. Kesan skeptis terhadap pemerintahan, merupakan kesan pertama yang gw dapat dari cover buku ini. Jadi seolah2 gw bakal dapat hal sejenis kayak ngebaca Gurita Cikeas (beneran gak ya, itu judul bukunya dulu??). Yaaa… memang ada penjelasan tentang betapa bobroknya negri ini… Tapi itu kecil banget… justru, kebanyakan yang bisa gw ambil justru prinsip2 ksatria seorang petarung yang dimiliki Thomas ataupun temannya Rudi.

Ada beberapa hal yang gw kutip dari buku ini…

Ibu benar, baru nanti sore. Tetapi kita terkadang telah mengambil keputusan bahkan sebelum keputusan itu dibuat. Rapat, diskusi, dengar pendapat, itu terkadang hanya proses mencari argumen, alasan sebuah keputusan, bukan untuk mengambil keputusan itu sendiri. (Thomas, halaman 179)

Tentu saja akan ada ratusan, bahkan ribuan nasabah yang kehilangan uang, tapi bukan nasabah kecil yang dijamin pemerintah. Ada banyak hal yang harus kami cemaskan, dan jelas itu bukan nasabah kelas kakap, apalagi nasib pemilik bank yang bangkrut. (Ibu Mentri, halaman 281)

Nah, semoga kalau kau nanti menjadi autodidak, kau akan lebih hebat dibanding Opa. Situasimu berubah, masalahmu juga berubah. Dicoba, gagal, dicoba lagi, gagal lagi, jangan pernah putus asa, mengeluh, apalagi berhenti dan melangkah mundur. Kau mewarisi darah seorang perantau, mewarisi tabiat seorang pejuang tangguh, Tommi. (Opa, halaman 291)

Kata-kata yang bijak… terutama untuk “warisan darah perantau”. Well, secara teknis, gw jugak kan… sayang ajah gw ngerasa kalo gw bukan perantau. Jadi gw paling mudah buat melangkah mundur. Hhhh… sayang banget.

Dan dengan sekian banyak taburan kalimat2 “penting” yang tersimpan, buku ini pantas banget buat diurus hak kepemilikannya 😀 walo kata2nya mengandung kata2 sulit… semacam “kapiran” dan sejenisnya.

Akhir postingan, 5 bintang untuk ksatria petarung dan para pembantu setianya yang berjuang sampai akhir untuk mencapai tujuannya.

5 Stars

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s