Stick to the Rule

Beberapa hari ini gw banyak mengambil pelajaran tentang kondisi di sekitar gw…. Salah satunya yaitu berpegang pada aturan yang ada. Mungkin bukan aturan c yah… lebih ke kesepakatan. Karena, sekarang semuanya sudah kebagi2. Tiap bagian punya tanggung jawabnya masing-masing. Tapi… cakupan tanggung jawab itu gak berdiri sendiri. Mereka terhubung satu sama lain. Jadi, kalo ada sosialisasi dari kesepakatan yang sudah ditentukan (oleh pihak atasan), sebisanya gak usah minta pendapat para pelaku. Kalopun ada masukan, ditampung untuk kesempatan berikutnya.

Bukannya kenapa2 c yah… Kalo yang satu udah berubah, ngerujuk ke hal2 lain bakal lebih sulit lagi. Karena faktanya, terlalu banyak komponen harus bertindak yang mengacu ke satu aturan. Jadi, sekali aturan dibuat… perubahan dari aturan sulit banget buat dipublish ulang.

Yah… pelajaran deh. Jadi, kalo mau buat satu keputusan, emang semuanya harus dipikirin baik2. Gak ada istilah sementara dan revisi. Buat revisi mungkin masih ada c yah… tapi revisi itu harus dibuat berdasarkan evaluasi yang dilihat dari hasil pencapaian setelah keputusan dilaksanakan. Dan… jangan sekali2 bikin revisi sebelum semuanya berjalan, tapi udah disosialisasikan. Berat chuy…

Begitulah… Sekarang c gw cuma berfikir baik ajah. Tiap keputusan dan perintah yang gw terima, semuanya udah dipikirkan masak2 oleh para pimpinan itu. Sedangkan sebagai pelaksana, bisa memberikan masukan dan mempertanyakan mengapa hal tersebut harus mereka laksanakan. Bukan untuk kepentingan pribadi, tapi untuk mengerti cara kerja suatu sistem yang sedang dan akan dijalankan.

Mungkin ini gak berhubungan c yah… tapi gw pernah dengar cerita gini:

Dua orang bapak dan anak berjalan ke suatu kota dengan didampingi oleh seekor kuda. Di tengah perjalanan, mereka mendengar komentar betapa tenaga sang kuda disia-siakan karena tidak diberi beban di punggungnya. Ketika si anak menaiki punggung kuda, terdapat komentar lain yang menyatakan betapa teganya si anak membiarkan ayahnya yang tua berjalan, sedang si anak bersantai-santai menunggangi kuda. Ketika sang ayah ikut menaiki kuda tersebut, seorang lain berkomentar betapa mereka tidak mengasihani kuda mereka. Memberikan beban yang terlalu berat pada keduanya.

Dan begitulah… gw gak tau komentar si orang lain ketika sang bapak naik kuda, dan si anak berjalan bersisian mendampingi bapaknya. Apapun komentar yang mereka dapat, inti moral cerita itu kira2 gini…  “ketika mendengarkan kata orang lain… hal itu gak akan ada habisnya“. Tapi, gw jadi kepikiran… gimana kalo si bapak dan si anak ternyata memikirkan hal yang sama dengan orang2 tersebut tanpa terlebih dahulu mendengar komentar mereka?? Karena faktanya, merekalah yang berjalan berdua didampingi oleh seekor kuda. Keputusan apa yang mereka ambil?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s