Review Buku: Teka Teki Terakhir

Judul: Teka-Teki Terakhir
Penulis: Annisa Ihsani
Jumlah Halaman: 252

Buku ini, gw ikutin dimasukin ke RC 2014 gw. Gak ikutan event RC-nya c ya… cuma pengen nyoba2 challenge diri sendiri ajah. Masuknya ke tantangan nomer 3! Iya… gw tau, awalnya gw taruh buku “Ghostwriter” di RC 2014. Tapi… berhubung gw gak tau naruh tu buku di mana…. Entah di kosan atau di rumah, gw nyerah ajah ke buku lain. Spesifiknya, gw gak ingat gara2 blog siapa yang akhirnya membatalkan program RC sekaligus “puasa beli buku” gw (iya.. gw beli buku baru bulan ini). Tapi kalo gak salah, pembelian ini kejadian jugak gara2 update-an status Kang Tesar pas gw kebetulan banget ada di toko buku. Dan pas banget, c toko buku itu ngediskonin semua bukunya 25% kecuali komik. Hmmm… Hmmm… Okeh, langsung ajah.

Resume:
Laura sudah bertetangga seumur hidupnya dengan keluarga Maxwell. Keluarga Maxwell sendiri tidak mendapatkan reputasi yang baik di lingkungannya. Keterasingan mereka membuat rumor yang “berbumbu” tersemat begitu erat pada mereka. Walaupun, kenyataannya… mereka hanyalah 2 orang yang sedikit berbeda. Perbedaan itu terdapat pada pemikiran-pemikiran mereka yang begitu luar biasa. Keluarga Maxwell sendiri terdiri dari sepasang suami-istri, yang keduanya bergelar Profesor. James Maxwell dan Eliza Maxwell.

Laura sendiri mengenal mereka sebagai sosok misterius dengan imajinasi yang bervariasi. Pertama, ia mengira keluarga Maxwell adalah penyihir… sesuai dengan imajinasi sang kakak, Jack. Lalu, setelah mereka semakin dewasa, ketika ia diminta untuk mempercayai bahwa sihir itu tidak ada, ia berimajinasi bahwa keluarga Maxwell adalah sosok alkemis luar biasa. Tetap dengan kesan “ilmu hitam”-nya. Tapi…. setelah semua hal yang bermula dari sehelai kertas quiz berangka 0 yang ia dapatkan… semuanya pun ikut berubah.

Dimulai dari Mr. Maxwell (James Maxwell), yang memberikan buku kepada Laura tentang sejarah angka 0 setelah Laura membuang kertas quiz berangka 0 di tempat sampah keluarga Maxwell, Laura mengubah persepsinya dengan keluarga Maxwell. Sedikit demi sedikit ia menerima keberadaan keluarga Maxwell, termasuk juga pelayan mengerikan yang baru bekerja di keluarga tersebut. Bahkan, sahabatnya melabeli Laura sebagai penerus kegilaan Maxwell.

Ketika ia sudah akrab dengan keluarga aneh itu, hubungan Laura dengan satu-satunya sahabat yang miliki mulai renggang. Laura tidak lagi menghiraukan sahabatnya. Kerenggangannya antar sahabat pastinya membawa sebuah konflik internal pada diri Laura yang masih sangat dini. Selain itu, Laura juga mengalami kerenggangan dengan keluarga Maxwell. Sampai akhirnya Laura menyadari posisi dirinya. Ia berbaikan dengan Laura, dan kembali mengunjungi keluarga Maxwell.

Ketika segalanya sudah mulai membaik, konflik lain pun muncul…. Bukan dari diri Laura, tapi dari luar. Pihak “luar” yang sudah ia anggap sebagai keluarga. Keluarga Maxwell menerima satu berita yang menggembirakan sekaligus…. mengecewakan. Kabar yang tidak terduga. Dan ketika semua sudah berakhir… Laura pun belajar sesuatu dari guru bernama “pengalaman”.

Opini gw:
Well… GW SUKAAAAKKK!!! Asli! Gw suka banget lah ama novel ini. Bukan…. bukan dari segi cerita. Karena, seperti yang kamu baca di bagian resume, ceritanya standar. Yah… teenlit gitu. Dengan kisah cinta yang minimal. Apah?? Kamu gak baca ada kisah cinta di bagian resume?? Emang! Emang gak gw tulisin… karena kamu musti baca sendiri supaya tau apa artinya rasa suka itu. Dan gak cuma sejenis. Coz, ada cerita tentang James & Eliza juga tentang Peter dan Laura.

Banyak hal2 yang gw sukak dari novel ini. Pertama, gaya penceritaan… Gw cukup sukak ama novel terjemahan. Terutama teenlit. Coz, novel “teenlit” pertama yang gw baca itu yaaaa… teenlit terjemahan. Judulnya “Si Badung di Sekolah” kalo gak salah. Memang gak teenlit c yah. Tapi yaaa bisa lah dikategorikan teenlit. Kan ceritanya remaja2 nanggung gitu. Lagipula, teenlit setau gw baru muncul pas Meg Cabot mulai bikin cerita tentang “Princess Mia”. Jadinya pas novel “Si Badung” muncul, dia gak dikategorikan teenlit. Oke, skip tentang prakata sebelumnya… Intinya… gw paling familiar sama penceritaan bergaya “Inggris” dengan ucapan “Kau-Aku”. Familiar plus sukak gitu…

Terus gw jugak sukak ama karakter mereka yang kuat satu sama lain. Terutama pasangan Maxwell. Bukannya kenapa2… tapi gw punya pembimbing dengan karakter persis sama dengan keluarga Maxwell. Lebih2, pembimbing gw itu jugak suami istri. Wow! Gw bener2 ngerasa jadi Laura. Yap! Juga dari segi ilmu… pembimbing gw lah yang ngajarin tentang filosofi dari sebuah ilmu pengetahuan. Dan… yah, gw harus akui jugak… gw ternyata punya pemikiran yang sama dengan anak berumur 12 tahun! Betapa kekanak2annya gw.

Dan lagi… yang diajarin ke Laura pernah gw ajarin ke mahasiswa junior gw! Dan lo emang gak salah baca! Iya! Gw ngajar!! Even gw gak gitu2 amat di bidang logika matematika, gw pernah lhoh ngajarin kalkulus proposisi plus kalkulus predikat… Ada dosen yang nawarin gw ngajarin itu karena beliau shorthanded gitu.. jadi butuh bantuan. Yawdah, gw terima ajah 😀 Mayaaaan, nambah2 uang jajan. Padahal gw dari lab programming… bukan dari lab tekom atau metfor. Dan bisa gw bilang, kalo gw ngajarin hal2 lebih ke cara supaya junior gw bisa lulus ujian… Gw bahkan gak tau apa yang gw ajarin waktu itu dari segi keilmuan. Gw cuma ngajarin trik2 nyelesaiin soal. Serius! Gw malu banget kalo ingat2 waktu itu abis baca buku ini.

Oke, gw mulai curcol lagi… Abaikan!

Balik lagi ke bukunya… gw jugak sukak gimana cara keluarga Maxwell menerangkan tentang eksistensi kepakaran ke Laura. Gw catat tuh di note goodreads… contohnya gini:

“Matematika murni tidak ada hubungannya dengan dunia nyata, Nona Muda! Matematika murni adalah tentang kebenaran dan keindahan. Siapa peduli dengan kegunaan…

Aku diselamatka dari gerutuan Tuan Maxwell mengenai “pentingnya mempelajari hal-hal yang tidak berguna” oleh kedatangan Nyonya Maxwell yang memeluk keranjang cucian kosong.

Well… pentingnya mempelajari hal2 yang tidak berguna… Gw senyum2 sendiri baca kalimat itu XD Sebagai seseorang yang berada di sekolah berstatus “politeknik”, ini agak2 kontras sama pemikiran gw 😀 Tapi iya jugak c yah… toh gw kuliah di IT, gw pernah nyasar jadi helpdesk plus customer care di sebuah perusahaan telekomunikasi. Jadi semua itu emang tentang keindahan dan obsesi…. 🙂

Terus ada lagi kutipan yang gak kalah kontroversial ama pemahaman gw… yaitu… tentang arti sebuah kerja keras. Bukaaann~~ ini bukan dari keluarga Maxwell. Tapi dari sahabat Laura. Dia bilangnya gini:

“Aku tahu prinsipmu, Laura,” kata Katie sambil ikut berbaring di sampingku. “Kau pikir kalau kau bekerja cukup keras untuk sesuatu kau akan mendapatkannya.”

…..

Lajutnya kemudian, “Bisa saja kau menghabiskan berhari-hari membuat gelang, tapi hasilnya seperti sampah. Atau bisa saja kau belajar keras, tapi dari semua hal yang kaubaca, tidak ada yang keluar di ujian…”

Waaaaww… gw yang sebagai penganut aliran JKT48 yang punya satu bait lagu “Kerja keras itu tak kan mengkhianati“…. jadi sedikit tergugah dengan prinsip yang Katie (sahabat Laura) katakan. Keren!

Dan lagi… gw sukak tentang kajiannya terkait apa itu hipotesis, konjektur, teorema de el el, de es be. Bahkan, gw jugak sukak ama teorema Fermat. Gw pernah belajar itu dulu… tapi cuma sebatas mengetahui. Gak pernah tau ada cerita di balik itu semua. Dan seriously… gw jugak pernah belajar sejarah angka 0 pas waktu belajar biner. Gw bener2 serasa baca kisah gw sendiri di buku ini. Mungkin karena latar belakang penulisnya jugak dari “perkomputeran” kali yah…  🙂

Kepemilikan buku ini… gw sarankan dengan kata “Ya”! Terlalu banyak hal2 menarik yang bisa kamu simpan selama2nya. Seriusan! Menurut gw c yah. Tapi kamu tau ajah, gw orangnya sukak overrated gitu… Dan buat cover… cover-nya c standar, gambarnya c antara sukak-gak sukak c yah. Cuma, tekstur covernya menarik… Jadi pengen ngegesekin kuku ke sana pas ngebaca bukunya… 😀 Untuk akhirnya sendiri… baru kali ini gw gak pentingin yang namanya “ending” sebuah kisah. Bukannya kenapa2… tapi buku ini terlalu nyata buat gw. Gw pengen banget ada sekuel dari novel ini. Gw pengen Laura terus bercerita tentang hidup dan kehidupan XD

Okeh… cukup buat review-nya…. akhir kata, gw kasi 5 bintang untuk Teka-Teki Terakhir dengan pemikirannya yang gak biasa.

5 Stars

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s