Review Buku: Blink

Judul: Blink: Kemampuan Berpikir Tanpa Berpikir
Author: Malcolm Gladwell
Jumlah Halaman: 316
Cara dapat: Minjem

Resume:
Yang namanya analisis membutuhkan waktu dan pastinya metode yang sistematis. Tapi, beberapa hal tidak dapat meng-cover hal-hal tersebut. Terlalu banyak hal di dunia ini yang dapat dinilai dengan perbedaan cara dan parameter yang pastinya juga berbeda. Salah satu bentuk penilaian yang tidak umum tapi sangat sering dipakai adalah penilaian yang singkat. Penilaian ini berlangsung dalam alam bawah sadar yang terkunci.

Contoh dari penilaian singkat (snap judgement) dalam blink ini seperti mengenali seseorang secara sekilas. Kita dapat mengenali orang tersebut, tapi ketika pengenalan dibawa ke alam sadar, semuanya tidak bekerja seperti yang dimaksudkan. Buku ini menjabarkan tentang contoh-contoh kemampuan berfikir sesaat. Baik dalam penilaian, analisis dan hal-hal umum yang biasanya membutuhkan penalaran. Terdapat contoh gagal, dan terdapat pula contoh yang berhasil.

Opini gw:
Sebenernya, ini buku yang gak tau kenapa bisa gw baca sampe tamat. Dari yang udah2, buku ber-genre ilmu pengetahuan, gak pernah bisa gw tamatin. Maksimal ampe 3/4-nya lah. Dan seperti yang gw bilang di resume… buku ini menjabarkan tentang cara pemikiran yang baru, yaitu berfikir tanpa berfikir. Menjabarkan lhoh yah… bukan menawarkan. Karena, dari yang ditulisin ama penulisnya, justru Blink ini lumrah dipakai sehari-hari.

Kemampuan berfikir tanpa berfikir sangat erat dalam hal stereotype dan yah… sifatnya bias di satu pihak, tapi juga benar di satu pihak. Bias karena sangat terkait dengan budaya dan pola fikir (contohnya pemikiran tentang ras) dan benar, karena akulturasi budaya bisa dibilang udah lumrah jaman gini. Contoh yang diambil dari buku ini memang gak nyebutin tentang budaya c yah.. tapi kasus yang diambil dalam Blink biasanya terkait tentang stereotype pemikiran seseorang yang terkait budaya. Sifatnya terlalu lokal. Makanya gw bilang gitu.

Banyak contoh berhasil dari pemikiran singkat ini, beberapa diantaranya… pertama, ketika adanya revolusi dari diagnosa di sebuah rumah sakit. Kedua, pas perang antara tim merah dan tim biru. Ketiga, tentang penilaian seorang musisi bernama Kenna. Keempat, tentang penilaian antara Coca Cola & Pepsi. Dan juga tentang penilaian dari seorang polisi terhadap sipil.

Walaupun buku ini membahas keberhasilan dan kegagalan dalam sebuah pola pikir, tapi terdapat kecendrungan untuk memberikan contoh kegagalan bagi cara pikir dan analisis teknik konservatif.

Rata-rata pemikiran yang ditawarkan terkait filterisasi parameter yang tidak terkait. Ketika terlalu banyak parameter yang dianalisis, hasil akan semakin tidak jelas dan membingungkan. Bisa jadi setiap parameter memang berkorelasi, tapi sebesar apa kaitannya… hal itulah yang bisa dipertanyakan. Dan terdapat gap antara hal2 “practical” dan “analytic”. Hal2 praktis seperti mengenali seseorang, biasanya terdapat “di balik pintu yang terkunci”. Tapi ketika hal praktis diangkat dalam ranah analitis, semuanya menjadi berbeda. Contoh yang diangkat di buku ini terkait hal penilaian seseorang saat diadakannya blind date dengan parameter berupa “tipe” seseorang yang diidamkan.

Dan lagi… yang paling gw sukak tentang pembahasan “Kursi Mati”. Di bagian ini, hal analitis-lah yang paling berperan. Tidak ada lagi unsur practical. Dari segi analitis, ketika keergonomisan menjadi parameter kenyamanan bagi sebuah kursi, estetika merupakan hal praktis yang akan dikorbankan. Dan ketika hal ini terjadi, bukan lagi riset pasar yang berperan… tapi kemampuan adaptif dan penerimaan masyarakat yang diharapkan untuk memberi penilaian. Jadi… untuk snap judgement memang tidak baik, tapi ada 2 analisis yang berperan di sini. Analisis pasar dan analisis produk. Di satu pihak penilaian spontan memang tidak berguna, tapi di pihak lain terdapat 2 hal analitik yang dibahas… dan bertentangan.

Jadii… intinya, semuanya terdapat kepantasan dalam pemakaian. Begitulah… ketika berbicara tentang hidup dan kehidupan, semuanya emang serba bebas c yah. Tergantung ajah… udah pantas atau belum.. udah sesuai aturan atau belum. Itu ajah. dan resiko… itu bergantung nasib dan takdir. Itu c yang bisa gw ambil setelah namatin buku ini.

Bukunya sendiri lebih cocok digunain sebagai referensi dalam perdebatan sehari-hari dibanding jadi referensi ilmiah walo ada banyak catatan dan fakta yang ditawarkan. Lebih ke alasan bahwa buku ini menjabarkan sesuatu yang sangat bisa ditolak oleh pemikiran ilmiah konservatif… Hal itu… agak sedikit sensitif biasanya.

So, ratingnya?! 3 bintang deh untuk gw yang sama sekali gak ngerti psikologi.

3 Stars

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s