Review Buku: Autumn in Paris

Autumn in Paris. Merupakan buku kedua dan lanjutan dari “Summer in Seoul” dari Ilana Tan. Even ini buku kedua, sebenernya gak ada hubungan cerita c yah sama buku yang pertama. Yang ada cuma hubungan karakter ajah. Jadi, kalo kamu mau coba baca tetralogy season series dari Ilana Tan, kamu gak musti mulai dari buku yang pertama. Kalo gw c tetep dari yang pertama. Kebiasaan ajah c yah. Belum lagi ada beberapa catatan kaki yang merujuk ke buku sebelumnya. Berasa gak afdhol kalo gak tau duluan. Dan sama seperti buku pendahulunya yang gw baca tanpa status kepemilikan… buku ini jugak sama ajah. Jadi, bisa diliat profilnya di goodreads. Dan langsung ajah… berikut resume sama opini gw.

Resume:
Tara Dupont, sosok penyiar ceria yang ekspresif dan gampang penasaran dipertemukan dengan Tatsuya Fujisawa oleh teman dekatnya, Sebastien. Tara awalnya menyukai Sebastien, sampai ia diperkenalkan dengan Tatsuya. Perkenalan mereka sendiri tidak begitu berkesan untuk Tara karena nilai 7,5 yang langsung ia berikan untuk Tatsuya. Tapi, semakin lama ia berkenalan, ia merasa sangat cocok dengan Tatsuya. Tara tidak merasakan perasaan itu dari awal, tapi perlahan2 muncul diawali dari ketidaksengajaan Tara mendengar cerita yang dikirimkan Tatsuya untuk dibacakan di radio tempat Tara bekerja. Ia merasakan bahwa Tatsuya merupakan sosok romantis yang dapat mengerti dirinya.

Perasaan yang Tara miliki ternyata tidak bertepuk sebelah tangan, karena dari sudut pandang Tatsuya, Tara merupakan cinta pertamanya. Gadis Perancis (atau Paris yak? gw lupa…) di bandara, yang mendapat pandangan Tatsuya sejak awal ia mendarat di kota yang ia tidak senangi itu.

Kisah cinta mereka memang indah, karena perasaan berbalas tanpa adanya konflik pihak ketiga. Tapi semuanya menjadi hancur karena kisah masa lalu yang tidak pernah terungkap sebelumnya. Rahasia yang disimpan oleh seseorang yang telah tiada, harus naik ke permukaan demi sebuah harapan untuk memperbaiki keadaan dan “menebus dosa”. Tapi… ada masa2 di mana keadaan dapat diperbaiki, dan ada juga masa2 di mana keadaan sangat terlambat untuk diperbaiki. Dan sayangnya, keterlambatan kali ini sepertinya tidak lebih baik daripada ketidakhadiran sama sekali.

Mungkinkah masa lalu itu diperbaiki?? Atau perbaikan itu membutuhkan pengorbanan bagi orang yang bahkan tidak ambil bagian dari masa lalu tersebut?

Opini gw:
Serius! Cukup sulit ngebikin resume kisah cinta musim gugur di Paris ini tanpa ngasi spoiler sama sekali. Tapi yah.. gitu deh. Maaf ajah kalo ada yang ngerasa resume-nya jelek. Terlepas dari ceritanya yang sebenernya monoton banget, gw sukak gaya penceritaannya yang lepas dan karakternya yang kuat. Yap! Ceritanya monoton! Emang… begitulah penilaian gw setelah menamatkan novel ini. Intinya yaaa tentang cinta. Mirip c ama Summer in Seoul, tapi entah gimana yah… gw ngerasa yang ini bener2 cuma se-tema doank. Kalo di buku sebelumnya gw masi dapat ngerumusin yang namanya arti sebuah persahabatan, kerja keras dan sebentuk perhatian…. kalo yang sekarang c… hmm, gitu lhah.

Di sini, penulisnya menawarkan kenangan2 masa lalu yang muncul tiba2 untuk mengundang rasa penasaran pembacanya. Hal yang gw sama sekali gak sukak! Seolah semuanya dipaksakan. Tapi, kayaknya emang gak ada cara lain ngedeskripsiin hal itu c yah. Jadi… yah… It’s okay. Buku ini gak jadi gw lempar ke pojokan.

Membuka lembar dari lembar dan pindah dari satu bab ke bab berikutnya, merupakan siksaan dan kesenangan sendiri buat gw. Karakter yang begitu kuat, tapi rapuh banget kalo udah bicara tentang cinta. En A Je I Es. Itu c yah kalo temen gw bilang. Gw c enggak separah itu. Menurut gw, mungkin itu letak sisi romantismenya. Dibandingin ama buku pendahulunya (boleh dong gw bandingin… toh penulisnya sama), rasa musim gugur udah cukup kerasa. Deksripsi Paris-nya jugak… walo gak gitu2 amat. Cuma, perasaan yang melibatkan kondisi ajah yang kurang penjabarannya. Gw asli gak ngerti tentang penggambaran perasaan gak suka untuk musim gugur di Paris, dan ngerasa aneh tentang deksripsi perasaan yang meruntuhkan rasa ketidaksukaan itu. Berasa… entah… ada yang kurang.

Dan… satu lagi yang gw gak sukak, tentang penceritaan yang begitu… tidak terduga! Cuma untuk menekankan kalimat “Selama dia bahagia, aku juga akan bahagia. Sesederhana itu”, harus ada akhir yang kayak gitu??? Huweeee… gw asli gak sukak! Well, walo gw menikmati ceritanya, cuma 1 bintang yang bisa gw kasi untuk hal yang tidak terduga itu.

1 Star

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s