Hutan Bambu dan Raja Bertelinga Keledai

Abis mosting tentang korean folklore: the king with donkey’s ear…. gw jadi kepikiran. Selama ini, bisa dibilang gw punya blog ini sebagai hutan bambu. Even yang gw kata2in di blog ini gak berlabel. Gak kayak cerita rakyat yang langsung bilang: “Rajaku bertelinga keledai!!”. Langsung berlabel “rajaku” gitu…

Hmmmm,, kadang suka aneh sendiri c. Apalagi kalo yang disampaiin ke “hutan bambu” itu bukan sebuah rahasia, tapi malah sebuah komplain. Beda c yah, kalo emang komplain, baiknya c langsung bilang ke orangnya langsung. Gw c biasanya gitu. Kalo gw agak2 bermasalah ama orang itu, gw c tetep bilang. Kalopun gw sampe harus teriak2 ke “hutan bambu” gw, itu karena komplain gw gak ditanggapin. Paling gak, gak ditanggapin dengan hal yang gw ingin gw ditanggapinnya kayak apa. Yaaa.. semacam perilaku kalo tiap orang cuma mau dengar apa yang ia pengen denger.

Atau kalo bener gak ditanggapin, justru karena itulah makanya gw nulis dengan mengarah ke pihak yang gw bikin anonim, dengan harapan gw bisa komplain tanpa adanya semacam “threat of retribution”. Yaaa, seolah2 gak bisa bertanggung jawab untuk aksi langsung yang sifatnya frontal gitu. Minimal, idup dengan makhluk sosial yang diajarkan buat selalu bener dari kecilnya, gw gak mau disalah2in. Komplain gw itulah ujud pembenaran gw. Karena yaaa itu… yang namanya salah itu gak boleh!

Ingat kan waktu kecil?! Pas SD kalo lupa bikin pe-er, dapat hukuman. Padahal, lupa adalah hal alamiah (cuma katanya, kalo dibiarin, bakal jadi kebiasaan…hmmm, pembenaran yang bisa dibilang benar). Kalo salah pas ujian, dapat hukuman pengurangan nilai yang ntar2nya berdampak ke yang lain2. Kalopun ada yang bilang nilai itu adalah bentuk reward karena justru nilainya bertambah seiring kebenaran yang didapat dari menjawab sebuah persoalan, maka tetap aja salah gak diperbolehkan. Karena yang tidak mendapat penghargaan akan menimbulkan rasa iri terhadap yang mendapat reward. Kan!.. kan!… gak boleh salah, kan??!

Tapi gimana pun itu… yang gw bahas bukan masalah benar-salah, tapi yang gw bahas tentang hutan bambu… Kasian hutan bambu. Apapun ceritanya, ia akhirnya harus ditebang. Tapi memang harus gitu… supaya si pembuat mahkota bisa istirahat dalam ketenangannya.

Hmmm,, kasian hutan bambu…. dan memang cuma itu yang bisa gw sampaikan ke hutan bambu gw. šŸ˜¦ Maaf ya hutan bambu, suatu saat…. pasti kamu ditebang! šŸ˜¦

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s