Korean Folklore: The King with Donkey’s Ear

Buat kamu para pecinta drama korea, pernah kan nemu tokohnya bicara tentang dongeng “The King with Donkey’s Ear” atau kalo di-Indonesia-in jadi dongeng tentang “Raja Bertelinga Keledai”. Apa??! gak pernah?! Duh… brarti referensi filem kamu belum banyak. Masalahnya, gw yang minim nonton pilem korea ajah, sejauh ini udah nemuin 2 judul drama yang bahas begituan.

Berhubung kemaren penasaran banget gimana ceritanya, akhirnya gw googling dan nemu satu buku yang ngebahas dongeng tersebut (ini semacam kumpulan cerita rakya korea gitu–tapi yang nulis bukan orang korea c kayaknya).

Karena gw baek, jadi gw ceritain lagi deh di sini (tapi pake bahasanya gw. Bukan versi translasi lhoh yaaa), dengan full credit buat si pembuat buku dongeng itu.

Dahulu kala, hidup seorang pangeran yang akan menjadi penerus tahta di kerajaan Silla. Tapi hal aneh terjadi. Setelah dinobatkan menjadi raja, telinga pangeran menjadi panjang dan berbulu seperti telinga keledai. Tidak ada yang mengetahui tentang hal ini termasuk orangtua sang raja. Raja menutup rapat-rapat rahasianya.

Sayangnya, saat pesta rakyat akan dilangsungkan, raja membutuhkan mahkota baru. Untuk membuat mahkota tersebut, seorang pembuat mahkota harus mengukur dengan tepat ukuran kepala raja. Hal ini membuat raja harus memperlihatkan bentuk telinganya pada sang pembuat mahkota.

Raja yang malu akan kondisinya mengancam pembuat mahkota untuk tidak menceritakan kondisi itu pada siapapun. Sang pembuat mahkota yang mengetahui posisinya, menerima pasrah “titah” tersebut.

Tapi, pembuat mahkota tidak bisa menyimpan hal itu terus-menerus. Semakin ia menua, rahasia itu semakin membebaninya. Sambil membawa beban untuk menyimpan rahasia, pembuat mahkota yang sudah tua akhirnya berjalan-jalan untuk menenangkan pikirannya. Dalam perjalanan, ia menemukan hutan bambu yang sunyi.

Pembuat mahkota yang hanyut dalam keheningan hutan bambu merasa bahwa hutan tersebut akan tetap sunyi walau ia membuat keributan sekeras apapun. Karena itu ia berteriak di dalam hutan bambu tentang rahasia sang raja. Ia berteriak: “RAJAKU BERTELINGA KELEDAI!!” Dan setelah meneriakkan rahasia itu, ia pun meninggal dengan tenang.

Oke, itu baru setengah cerita. Dari hasil observasi gw yang gak bisa dipertanggungjawabkan, ada beberapa versi terusan dari cerita di atas. Bahkan kabar2nya ada versi lain yang bilang kalo si pembuat mahkota gak meninggal dengan tenang, tapi dipenggal oleh raja.

Tapi intinya yaaaa gitu… Ada saat2 kamu memendam sebuah cerita tentang seseorang atau kondisi diri kamu sendiri yang gak bisa kamu pendam gitu ajah. Dan saat itulah kamu memerlukan sebuah “hutan bambu” untuk menenangkan hati. Gak butuh respon. Yang penting tersalurkan. Ada yang masuk, dan ada juga yang keluar. Yah,, prinsip “keseimbangan” dari yang namanya idup lhah.

Jadi simpulannya, untuk bagian yang pertama… Lain kali kalo kamu dicurhatin atau dijadiin tempat buat curhat drama gitu, gak usah komentar duluan deh. Biarin ajah dia cerita sesukanya dia, terus kalo dia tiba2 diam, gak pake ekspresi…. gak nangis, gak ketawa dan pastinya datar, bisa jadi dia lagi ngerencanain sesuatu buat kamu. Apalagi kalo dia sampai nanya, “kok lo diam ajah c?! Kok gak nanggepin??” Hmmm.. itu artinya dia cuma minta perhatian ajah. Modus gitu… Kalo kamu gak suka ama dia, mending langsung tinggalin. Tapi kalo kamu orangnya emang baik, senyum simpul yang gak tulus pun udah cukup buat ngasi kode kalo kamu cuma sekedar basa-basi. Sebaliknya kalo kamu jugak seneng ama dia, pas dia minta tanggapan, harusnya kamu seneng kalo perasaan kamu buat “bersahabat” ama dia jadi berbalas. Kalo tahapannya gini, apapun yang kamu bilang, biasanya yang curhat itu bakal iya2 ajah. Karena konten dari tanggapan kamu gak penting. Pro ataupun kontra. Yang penting, kamu ada buat dia. Asik!

Ehh… jadi lupa topik awal. Kita ngebahas folklore kan?! Bukan ngebahas tentang idup dan kehidupan… Okeh! Lanjut! Versi pertama yang gw dapat untuk bagian kedua cerita ituh diceritain gini:

Sepeninggal pembuat mahkota, angin bertiup di sekitar hutan bambu dan membawa kabar tersebut ke desa-desa tempat raja memerintah. Di desa tersebut angin yang bertiup dari hutan bambu seolah meneriakkan “Rajaku bertelinga keledai!!” Desa yang penuh ketidaktenangan, menjadi semakin ribut karenanya. Hingga berita itu akhirnya terdengar oleh raja.

Raja yang tidak suka akan hal ini, menebang hutan bambu tersebut. Sebagai gantinya, raja membuat bukit bunga dan pepohonan di tempat hutan bambu berada dulunya. Tapi walaupun demikian, gemerisik dedaunan seolah masih meneriakkan bahwa raja bertelinga panjang seperti keledai.

Tamat….

Yap.. versi pertama, ceritanya hutan bambu membocorkan rahasia raja.

Pesan moral dari versi pertama untuk cerita bagian kedua (karena ini kan dongeng buat anak2 kan yah, jadi musti ada nasihat gak langsung yang harus diambil), yaitu rahasia gak bisa dipegang sama sekali oleh 2 orang, walaupun salah satunya mati. Kecuali kamu punya garansi kalo si pemegang rahasia gak punya pewaris rahasia sebelum dia ninggalin dunia. Tapi gak cuma itu pesannya. Pesan lainnya, kalo ternyata bahkan seorang yang kedudukannya tinggi (dalam cerita diwakilkan sebagai raja), pasti punya yang namanya kelemahan. Karena itu yang udah ngerasa “besar” harus tetep humble dan sederhana. Jadi kalau kamu punya “cacat” dikit, yang lain bisa memaklumi. Nutup lhah…

Gitu~~

Tapi itu cuma satu versi yang gw ambil dari bukunya. Ada versi kedua dari cerita itu. Ceritanya gini:

Sepeninggal pembuat mahkota, angin bertiup di sekitar hutan bambu dan membawa kabar tersebut ke desa-desa tempat raja memerintah. Di desa tersebut angin yang bertiup dari hutan bambu seolah meneriakkan “Rajaku bertelinga keledai!!” Desa yang penuh ketidaktenangan, menjadi semakin ribut karenanya. Hingga berita itu akhirnya terdengar oleh raja.

Dikarenakan kabar yang tidak bisa berhenti beredar, raja yang awalnya merasa malu, akhirnya bisa menerima kekurangannya. Raja pun akhirnya mengakui kekurangan tersebut di depan rakyatnya.

Rakyat yang bersimpati pada raja karena mau menerima kekurangannya, bersama-sama menebang hutan bambu agar raja tidak merasa dikhinati dan dibebani oleh hutan bambu yang mengetahui rahasia raja. Karena apapun itu, tugas rakyat untuk bersatu menutupi dan memperbaiki kelemahan kerajaan mereka (anggapannya, cacatnya raja adalah kelemahan dari kerajaan tersebut).

Setelah hutan bambu ditebang, telinga raja normal kembali. Raja pun menjadi fokus untuk memimpin rakyat kerajaannya dengan arif dan bijaksana. Dan rakyat hidup dalam kesejahteraan.

Tamat….

Versi kedua, walau punya akhir yang lebih menyenangkan karena semuanya disebutkan dalam state kebahagiaan. Tapi walo gitu, punya nilai norma yang hampir sama. Dan ada satu kesamaan dari 2 versi ending cerita itu. Hutan bambu sama2 ditebang. Yah… hutan bambu itu benar2 ditebang…..

FYI, cerita ini setau gw mirip2 ama cerita rakyat dari somalia. Cuma ajah, pembuat mahkota diganti tukang pangkas kerajaan, hutan bambu diganti lobang galian, dan desa rakyat diganti jadi taman kanak2. Dan akhir ceritanya pun beda. Tukang pangkas kerajaan dipenjara seumur hidupnya, dan menyesali yang telah ia lakukan. Jadi kalo norma yang ada di cerita itu fokus di bagian supaya amanah megang rahasia seseorang.

Begitulahh~~ entah kenapa, dongeng ini… sekarang jadi berarti banget buat gw. Bukkaaaannn.. bukan sebagai pecinta drama korea. Tapi sebagai individu yang…. yah gitu lhah….

Ha! Satu lagi tulisan yang gak jelas….

Advertisements

One thought on “Korean Folklore: The King with Donkey’s Ear

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s