Penilaian Kebenaran Kepemimpinan

Di buku manajemen, terutama bidang SDM, bakal banyak lo temuin pertanyaan kayak gini :

“Bagaimana cara memimpin yang baik?”

atau

“Kriteria seorang pemimpin yang bersahaja”

atau bisa jugak

“Prinsip-prinsip kepemimpinan seorang pemimpin”

Tapi sayangnya, di dunia nyata…. at least di dunia yang nyata2 gw jalani, pertanyaan dan pernyataan itu gak ngaruh dan gak guna sama sekali. Yang ada dan yang jadi kejadian di gw, best practice dari sebuah kepemimpinan cuma sebatas pertanyaan: “Bagaimana agar anda terlihat dapat mempimpin dan dirasa bisa dipilih untuk dapat dipimpin dalam memimpin”.

Well, begitulah. Seorang boss, terlihat gak lebih sebagai seorang bawahan buat seorang big boss. Ketika seseorang akan dipilih menduduki sebuah jabatan yang identik dengan “kepemimpinan” secara formal, maka segala pertimbangan akan diberikan. Pertimbangan apapun itu. Terlepas dari hasilnya yang entah itu “condong kanan”, “condong kiri” atau bisa jadi “tidak condong sama sekali”. Segala pengangkatan membutuhkan pertimbangan dan pendengaran pendapat yang tidak sepihak, walopun yaaa… pastinya memihak.

Mungkin ada banyak tulisan2 mengenai hal ini. Tentang peran seorang manager dan pemimpin serta bagaimana membedakan diantara keduanya. Kriteria pemimpin yang bukan sekedar didapat dari jabatan manager de el el de es be. Tapi yang namanya tulisan, tetep ajah bakal jadi sekedar tulisan semata. Selama sistem yang ada bersifat statis dan stagnant, opini tetaplah hanya menjadi sekedar wacana.

Kenapa gw tiba2 tulisin gini?! Owwhh~~ gak lain dan gak bukan, karena gw baru denger kalo gw tuh pernah dicalonkan buat jadi yaaa semacam pembina gitu lhah. Cuma, sayangnya terlalu banyak yang mendebatkan hal tersebut. Sampe seseorang yang pastinya bukan gw, terpilih untuk mendapatkan hal tersebut.

Well, gw c fine2 ajah. Toh gw baru setahun lebih part time di kantor itu. Daaann, yaaaa bisa dibilang less experience, dibanding seorang teman yang walo sama2 setahun lebih, tapi punya experience yang lebih di tempat lain. Belum lagi, pas pemillihan belakang layar itu, gw masi sibuk2nya ngerjain skripsi gw yang bisa dibilang uhhmmm… gitu lhah…. Hmmmm…

Gw c sempet gak ambil pusing c yah ama gini2an. Karena toh gw jugak emang males buat ngekoordinir sesuatu. Kalo gak dikasi dan bersifat memaksa, mending gak usah. Tapi…. sayangnya, alasan yang muncul untuk gak ngelolosin gw, bikin gw agak2 gak terima. Ditambah rasa penolakan, even secara teknis ini tuh gak ditolak sama sekali, tapi yang namanya losing tetep ajah kalah. Dan gw gak sukak itu.

Alasan yang muncul sebenernya kurang jelas juga apa, tapi toh kalo mau berspekulasi tentang cara untuk mengkoordinir segala sesuatunya…. uhmmm, dari kita berdua gak ada yang lebih baik. Walopun, kalo dari keliatannya, yaaa pastinya beliau-yang-terpilih-itu, pastinya dirasa lebih mampu. Selalu terlihat lebih sibuk dan handal untuk hal tersebut. Temen gw bilang, keluhan adalah sebuah pembuka cerita. Dan beliau hmmm, bisa dibilang suka melakukannya. Sedangkan gw?! Maki2 di dunia maya ke sosok yang gak bakal gw publish, cukup buat menutup mulut gw di dunia nyata. Selama dosis kekesalan yang mereka tawarkan ke gw masi berada dalam tahap wajar.  Kalo gak,,, ya sudah…  I’ll make it more obvious!

Begitulah… Kadang, pelontaran alasan gak lebih dari tahapan pembenaran dari sebuah kejadian. Gw tahu itu. Tapi akan sangat buruk kalo elo tiba2 juga membenarkan hal yang sama padahal lo tau itu gak bener. So, inilah ketidakpembenaran gw atas alasan2 yang beredar di dunia nyata yang gw hadapi.

Well, lo salah nilai gw kalo gw itu bener2 orang yang “bener“, guyzzz…..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s