Jurnalistik

Buat gw, jurnalistik merupakan dilema. Di satu pihak, gw memihak, tapi di pihak lain gw berontak.

Pemberontakan ini bisa jadi dikarenakan beberapa orang terdekat gw yang trauma ama yang namanya pemberitaan. Krisis kepercayaan terjadi gitu aja seiring kasus yang diberitakan terhadap mereka. Mereka menyebutkan bahwa para kuli tinta itu (heeuu, bahasa ini udah gak digunain lagi yah kayaknya…) cuma membuat berita yang ingin didengar masyarakat. Dengan respon negatif yang akan selalu lebih cepat mendapat tanggapan dibandingkan hal sebaliknya, mereka terpaksa harus menuliskan berita-berita netral dengan kesan negatif ataupun sebaliknya, berita-berita negatif dengan sifat netral demi kepentingan perusahaan yang menaungi mereka. Itu pendapat mereka yang tidak percaya.

Bagi mereka yang menggeluti bidang ini, mereka yakin bahwa mereka selalu berusaha untuk netral dan menyampaikan apa adanya. Sayangnya, sumber mereka bisa jadi hanya orang-orang yang berkepentingan untuk mengarahkan pemikiran dan pendapat khalayak luas dengan media jurnalistik. Yah, kalopun mereka tidak berkepentingan, manusia adalah makhluk yang penuh dengan penilaian. Mereka menilai, dan bisa jadi harus mengungkapkannya…. dengan kata2 yang kadang tidak apa adanya.

Sayangnya, sekali setelah berita itu muncul, tugas awak media untuk mengantarkan hal tersebut menjadi topik utama ataupun hanya menjadi penghias suatu kabar demi mereka2 yang sekedar ingin tahu. Dan itulah yang mereka sebut sebagai pengalihan isu. Hmmm…

Gw sendiri, bukan orang yang terjun di dunia ini. Hyaayaalah, kalo terjun kan artinya jatoh. Dan jatoh itu bikin sakit. apasi… :p

Tapi, bokap ama nyokap merupakan orang2 yang bisa dibilang berkecimpung di bidang tersebut. Yap, gw emang tipe buah yang jatohnya ketiup angin topan. Jatohnya jaauuuuhhh banget, dari pohonnya. Walopun jauh, tapi toh gw tetep buah dari pohon yang dimaksud. Keberpihakan gw dimulai dari sini. Jadi, gw agak defensif plus sensitif kalo ada yang skeptis plus gak percayaan ama yang namanya berita dan pemberitaan warta. Walopun yah, setelah ngebaca sendiri berita yang dituliskan mereka dan kebetulan gw tau banget apa yang terjadi sebenernya, gw malah jadi berfikiran sama ama mereka.

Di satu pihak, gw defensif, tapi di pihak lain gw merasa terkhianati dan pengin berontak. Kayak yang dirasain Yamamato Kansuke yang ngerasa dibohongi tuannya, tapi pengen ngelindungin mimpi2 tuannya. Mereka gak nulisin berita yang gw liat sama sekali. Kalo hanya masalah perbedaan sudut pandang, gw masih memaklumi, tapi entah kenapa gaya pembicaraan yang sok tahu, menghakimi, meyakinkan tapi tetap netral itu bikin gw…. Uhhmm,, bikin gw sakit ati ama tipe2 tulisan kayak gitu.

Hhhh… Seriusan… di dunia yang emang bias, ditambah krisis kepercayaan kayak gini, gw jadi males liat berita akhir2 ini. Positif ataupun negatif. Mending gw nonton drama korea ajah. Yahh, tau c kalo gw dibohongi, tapi karena itulah jadi ngerasa fine2 ajah dibohongin. Btw, jewel in the palace diulang lagi di tipi ikan terbang, yah? Buat tipi ikan terbang, tayangin The Heir dunkk.. Gw blom nonton gara2 pemasok gw lagi sibuk ujian plus ngeredain sakit ati gara2 kena aturan kurikulum baru.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s