Referensi

Apa yang lo rasain, apa yang lo alamin, apa yang lo kerjain… Semua yang terjadi ke elo pastinya penuh dengan penilaian apakah suatu hal itu wajar atau gak wajar. Pantas atopun gak pantas. Dan ini semua tergantung referensi. Yahh… referensi…. Perbandingan gitu.

Contohnya ajah pas waktu makan Pizza. Beberapa orang ngerasa pizza itu gak enak dan gak wajar di lidahnya, dan ada beberapa orang yang ngerasa pizza itu makanan terenak yang pernah dia makan. Ada beberapa orang yang ngerasa ikan laut itu lebih enak daripada ikan tawar. Dan ada juga yang lebih milih makan ayam dibanding makan ikan. Semuanya gak lebih dari referensi yang pernah ia dapat. Yang suka pizza mungkin karena udah dibiasain buat makan roti “tipe asin” (semacam isi daging, pake taburan abon dll) ama orang tuanya pas sarapan, sedangkan yang ngerasa pizza aneh mungkin lebih terbiasa buat makan nasi beserta lauk pauknya. Dan kalopun makan roti, biasanya “tipe manis” (yang pake selai, celup ke susu dll). Gitu juga sama ikan. Bokap gw lebih sukak masakan ikan laut, coz dari kecil yang ada emang cuma produk laut. Sedang gw lebih sukak makan ayam karena mamah bisanya ngolah ayam, bukan ikan!

Contoh lain juga tentang fashion. Seorang desainer terkemuka yang diundang dalam sebuah talkshow yang gak sengaja gw tonton bilang gini:

Aneh atau enggaknya suatu pakaian yang dipakai seseorang, itu semua tergantung referensi. Bayangin aja ada orang pakai jins dan atasannya kemeja kuning dengan baju dimasukkan ke dalam celana, itu masih bisa diterima dibanding seseorang memakai kemeja kuning dengan celana bahan yang warnanya sama dengan warna jins tersebut.

Cukup menjelaskan kenapa gw gak heran liat orang di kondangan pake jas dengan daleman kaos pas teteh gw merhatiin orang itu pake pandangan aneh dan bertanya2. Gak lebih karena gw kebanyakan nonton MV korea dengan outfit mereka yang wow, sedang si teteh cuma kepikiran buat make yang namanya batik kalo ke kondangan. Yah, semua itu tentang referensi.

Mungkin di sini gw gak akan mempertanyakan hal yang sama kayak pertanyaan seorang temen ke gw:

Jadi Bi, bagusnya kita lebih memperbanyak referensi biar lebih open mind dan bisa melihat dari berbagai sudut pandang, atau hanya memperbanyak referensi secukupnya supaya bisa berbaur?!

Hal yang kayaknya c udah jelas buat gw. Mau open mind atau berbaur, yang jelas referensi emang musti ditambah. Mau dikit ataupun banyak, yang jelas harus nambah! Dan abis itu, semuanya cuma masalah penggunaan ajah.

Juga gak bakal ngebahas masalah referensi dari generasi ke generasi. Tentang generasi dulu yang lebih sedikit referensinya dibanding generasi sekarang yang lebih terbuka dan gimana cara menanganinya. Lagi2 itu menurut gw cuma masalah penggunaan. Mau digunakan berbeda atau dengan cara yang sama, yang jelas referensi itu udah ada dan tersedia.

Gw c pengennya ngebahas cara penggunaan referensi itu. Tentang penanganan penilaian hitam-putih dari sebuah referensi. Karena menurut gw, gw idup di dunia yang punya gradasi warna tapi selalu dinilai dalam 2 tipe, tipe hitam dan tipe putih. Sayang gw gak punya “referensi” yang cukup banyak tentang ini. Hehehe :p

Tapi di beberapa kesempatan, gw sempat menemukan beberapa hal. Contohnya dulu gw pernah punya dosen yang bilang ke anak2 sekelas kalo dia cuma punya 2 nilai pencapaian. Nilai maksimum, dan nilai di bawah maksimum. Katanya, gak masalah kalo gak dapat nilai maksimal buat suatu penilaian, tapi bakal masalah kalo kita gak ngejadiin penilaian itu suatu masalah pencapaian. Kenapa?! Karena setelah kita tidak mencapai maksimal, atau bahkan hampir maksimal, biasanya kita akan berpuas diri. Dan setelah itu, standar pun akan turun dan mengikuti standar pencapaian sekarang. Hal ini akan selalu turun ketika kita berpuas diri dengan referensi yang berbeda setiap kalinya.

Mungkin kamu bakal protes gini: “Tapi bi… maksimum itu artinya kesempurnaan, dan kamu tau kan kalo manusia itu gak sempurna!!” Gw juga berfikiran hal yang sama waktu itu sampe nyadar, siapa c yang ngebikin standar kesempurnaan itu… Maksimum itu gak lebih dari sekedar ilusi dari kesempurnaan. Gak pernah ada bentuk standar dari itu. Temen gw yang relijius pernah bilang ke gw “Selama kamu manusia, standar kesempurnaan itu gak pernah ada. Tapi bukan berarti kamu gak bisa berusaha untuk menjadi lebih baik yang mendekati standar kesempurnaan absolut, kan?!”

Yahh.. begitulah… tentang penggunaan dari referensi untuk tidak berpuas diri.

Di lain kesempatan, pas masi jadi asisten dulu, gw punya 2 temen yang bisa dibilang bertentangan. Yang satu punya standar tinggi, dan yang atu punya standar tinggi buat ngasi tugas ke praktikan. Suatu kali pas rapat asisten, mereka pecah pendapat. Yang atu pengen tugasnya seabrek2, yang atu lagi pengen tugasnya minimal ajah. Yang mau minimal, dia ngerasa pas jadi mahasiswa dulu tugas tuh kebanyakan, dan sekarang dia mau berbaik hati memberi kesempatan buat adek2 praktikannya biar bisa sedikit “napas” lhah. Ahh… referensi ke diri sendiri.

Singkat cerita, temen gw yang perfeksionis itu akhirnya “memenangkan pertempuran”. Bukannya kenapa2, tapi ini gak lebih karena tugas yang dia berikan ke praktikan sesuai standar yang seharusnya. Jadi untuk tiap pertemuan praktikum, ada satu tujuan yang harus dicapai mahasiswa. Tujuan itu dia bikin dalam bentuk penugasan2 yang dia rasa gak gampang buat dibikin, tapi masi mungkin dikerjain kalo mau usaha. Dia malah bilang kalo ajah mau ngikut standarnya dia, yakin ajah praktikan bakal mogok masal buat ngerjain tugas dari asisten gara2 gak “mahasiswawi”. Yah, lagi2 ini masalah referensi. Referensi apa yang digunakan untuk bisa menilai sesuatu.

Gitu… Semua ini masalah referensi yang digunakan dan cara memakainya. Jadi… kalo mau menilai sesuatu, ingat2 ajah referensi mana yang udah ada dan pantas atau gak buat dipakai dalam penilaian sesuai jamannya. Karena referensi emang punya masa kadaluarsa.

Yahh, mereka punya masa kadaluarsa. Referensi gw jaman kecil dulu, TK itu gunanya buat latian sosialisasi. Cari temen maen sama ngelatih pengucapan huruf R (maklum, lidah korea :p –ngarep-). Dan pas jaman sekarang, gw kaget karena “referensi”nya, anak TK udah bisa baca. Bahkan udah tau 2 bahasa asing (umumnya kalo gak inggris-jepang, inggris-arab). Gw ajah bahasa daerah patah2.

Contoh lain… tentang kiblat modernisasi. Pas gw TPA, ustad ama ustadzah-nya memotivasi kita buat belajar ke Mesir, belajar agama yang katanya keren! Terus pas SD dimotivasi biar ke luar negri (bilangnya c ke amerika–walo gak pernah ditunjukin amerika tuh dimana, dengan tambahan cerita jangan ke Malaysia coz dulu banyak orang sana yang belajar ke Indonesia–ihh, itu kan referensi lama). Pas SMP sampe SMA, kita dimotivasi buat cari beasiswa yang kebetulan adanya di beberapa negara maju kayak Jepang, Singapura atau USA. Pas kuliah, dimotivasinya buat ke Prancis. Dosen2 dulu disekolahin ke sana masalahnya. Dan sekarang, pas gw mau lulus2an, termotivasi buat ke Korea. Alasannya pasti tau kenapa.

Hmmm.. begitulah… cerita tentang referensi beserta masa berlakunya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s