0

Tonton “Why the NEW Blender 2.8 is a BIG DEAL” di YouTube

Yeay.. update dari blender dengan nomor versi baru.. 2.8.. dan versi “review” dari blender guru.. udah sebulanan c yah.. tapi gapapa yak. Kan blog ini juga updatenya paling cepat sebulan sekali juga.. haha.

Saya sendiri ngerasa excited banget adanya update-an ini. Walau, ga ngaruh c yah. Kerjaan makin ke sini makin lebih meluas. Kadang bicara android dengan bahasanya yang baru banget buat saya. Kadang bicara DBMS mulai dari yang relasional, bahkan sampai NoSQL. Sempat juga harus belajar AI, Machine Learning, plus data science dan semacamnya. Tapi.. blender buat saya, tetep jadi tools yang bikin paling berkesan banget (sampai beli bukunya padahal ga dibaca sampai sekarang 😅). Begitulah.

Update-an ini.. jadi pengen nontonin lagi tutorial dari para artist plus ngikut2 dikit kalau bisa. Asli lhah.. excited banget!

Buat temen-temen yang punya rejeki lebih dan hobi bikin karya pakai blender.. boleh lhoh yah jadi donatur biar blender makin berkembang kayak gini. Kereeeenn..

Asli keren!!

Advertisements
0

[Review Buku] Evergreen

Judul: Evergreen
Author: Prisca Primasari
Jumlah Halaman: 203
Penerbit: Grasindo (PT Gramedia Widiasarana Indonesia)

Resume (ada spoiler-nya dikit yah):
Rachel, wanita karir keturunan Jepang mengalami masa depresi dan merasa menemui jalan buntu dalam hidupnya. Rachel dipecat dari perusahaan yang dibanggakannya karena sebuah kesalahan yang menurutnya tidak begitu fatal. Pemecatan ini berdampak besar bagi Rachel. Ia merasa tidak akan diterima lagi di perusahaan manapun. Belum lagi sifatnya yang penuh keluhan, membuat ia tidak lagi “diterima” eman-temannya.

Keputusasaan selau menemani sampai seseorang memberitahukan kepadanya tentang kedai es krim bernama Evergreen. Kunjungan pertama cukup berkesan bagi Rachel hingga singkat cerita, Rachel ditawari oleh owner Evergreen–Yuya–untuk bekerja di kafenya. Tawaran yang awalnya ia tolak, tapi akhirnya ia penuhi dengan keterpaksaan. Dan cerita pun dimulai di sini.

Di Evergreen, Rachel mengenal Yuya, Gamma, Fumio, dan juga Akari. Bagi Kari, Rachel adalah beban. Hubungan mereka tidak terlalu dekat awalnya, tapi dengan satu kejadian yang mereka alami, Kari cukup melunak kepada Rachel. Kisah para pekerja di kedai es krim Evergreen terus berlanjut hingga akhirnya Rachel sadar akan posisi dirinya, berkaca dari kisah mereka. Rachel yang egois dan self-centered mulai belajar hal “baru” untuk dirinya. Bukan hal yang baru sebenarnya. Akan tetapi hal yang baru setelah ia mengalami kejadian yang tidak mengenakkan di masa mudanya.

Pada akhir cerita, sang owner memberitahukan apa arti Evergreen darinya, dan kisah ditutup dengan epilog. Epilog yang bukan diceritakan Rachel, tapi dari sudut pandang Fumio.

Opini:
Melihat rating yang cukup tinggi di goodreads, harga diskon, dan juga tulisan “Best Seller Fiction” di sampul depan, membuat saya pergi membawa buku ini ke kasir toko buku bersama beberapa buku lain. Dan yah.. seperti itulah buku ini berakhir di rak buku setelah sekian lama, dan akhirnya baru kebaca sekarang. Hehe..

Overall, eksekusi cerita cukup bagus, alurnya menarik, dan juga interaksi antar tokoh yang wajar membuat saya terus mau membalik buku ini selama saya punya waktu luang. Bukan tipe buku yang bikin saya penasaran dan bela2in untuk meluangkan waktu. Tapi yaaa cuma skedar dibaca pas malas ngapa2in. FYI, buku ini mulai dibacanya karena kejadian mati listrik se pulau Jawa area barat kemarin. Dan sejak itu diterusin sampai sekarang.

Membaca buku ini dari satu halamn ke halaman lain, buat saya kayak nonton filem drama Jepang. Saya sendiri ga terlalu banyak nonton drama Jepang. Tapi intinya yaaa.. gitu lhah. Banyak bagian yang harus dijelaskan, ternyata ga dijelaskan di akhir cerita. Ga tau karena memang ga penting atau karena emang bakal ada sekuel-nya. Alurnya cukup lambat, dan ada teka-teki di awal cerita untuk menjadi twist di akhir cerita.

Dari sekian banyak review yang saya baca di goodreads, nilainya c hampir seragam yah… kira2 kasih bintang 4 atau 5 gitu. Tapi ada juga yang kasih bintang 2. Bintang 1 juga ada, tapi ga nemu. Udah males scroll saya-nya. Hohoho. Para readers pemberi bintang 2 ini, rata-rata kecewa karena budaya “jejepangan” yang ga sesuai harapan. Belum lagi karena pemilihan kata, atau juga karena ga suka ajah. Tanpa alasan. Yap, se-simple itu.

Terdapat beberapa kejanggalan cerita di beberapa tempat. Contohya, umur Fumio dan adiknya, awalnya diceritakan beda 2 tahun. Tapi akhirnya jadi 1 tahun aja di halaman berikutnya. Terus. saya ga tau berapa gaji di kedai es krim itu, tapi bisa bikin pegawainya sedikit “berfoya-foya”. Contohnya, bisa beli lukisan. Punya piano. Nonton opera di akhir pekan. dan lainnya.. Saya ga tau itu mungkin terjadi atau enggak, walau dengan kemurah-hatian dari sang owner, tapi kayaknya yaaaa… ga bakal segitunya.

Belum lagi, sifat memaafkan yang sebegitu besarnya. Saya cukup ga yakin dengan sifat tokoh2 di buku ini yang gampang memaafkan terjadi di dunia nyata. Kalalu memang gitu, damai deh dunia. Yah, berharap aja sikap mereka itu memang hal nyata yang layak diteladani. Mungkin kamu bertanya-tanya… maaf-nya itu ada di mana?! Well, akhir dari cerita menjeskan semuanya. Buat saya, hal itu cukup ga mungkin c yah. Kecuali di cerita drama yang kontrak tayang nya udah hampir habis. Jadi konfliknya musti diselesaikan secepatnya. Kayaknya c gitu.. Entah memang konfliknya yang emang sengaja dibuat minim, atau lingkungan saya aja yang terlalu pendendam… entah… ga tau saya.

Pluuusss.. Hal yang mungkin bikin agak kontroversi itu buat saya, waktu kejadian Yuya cium pipinya Rachel tiba2. Uhmm, mungkin ada yang bilang ini soo sweet yah. Tapi, berhubung mereka bukan dalam kondisi terikat (entah pacar atau apa), dan Rachel itu digambarkan “biasa” aja ama si Yuya-nya.. cendrung kasar malah. Entah sengaja digambarkan tipe2 tsundere gitu atau apa.. tetap ajah ya. Beberapa pihak yang saya kenal, bisa jadi nge-judge itu sebagai scene pelecehan seksual. Menurut kamu berlebihan?! Entahlah… tapi percaya deh. Ada yang nganggap gitu.

Balik lagi ke penilaian buku secara overall… Buat saya, buku ini.. enggak masuk ke “my cup of tea”. Saya sendiri awalnya ga yakin. Tapi akhirnya saya yakin setelah menutup cover akhir buku ini. Ceritanya hampir datar dan menyimpan kesedihan tersendiri. Belum lagi ending-nya. Bukan ending cerita c sebenernya, tapi epilog cerita. Saya musti berlinang air mata ngebayangin scene yang diceritain sama Fumio. Saya ga mau cerita yah, sebenernya scene-nya gimana… tapi asli. Saya nangis sebelum nutup tamat buku ini. Dan pas ditutup, lebih mengharu biru lagi.

Well, kalau kamu bertanya-tanya “ini segitu menyedihkannya?!” jawaban saya c “kayaknya enggak.. saya nya aja yang terlalu de-ra-ma“. Yaaaah, yang kenal saya, pasti tau, saya tuh gampang banget netesin air mata. Kebayang aja rasa sendiri dan kesepian itu. Ga akan bisa dikurangin pakai acara jalan2 dan bertualang segala. I know how it feels. Bahkan sebelum review buku ini ditulis, saya sendiri sempat berlinang air mata.

Dan karena alasan di atas, akhirnya saya ga mau buku ini masuk ke dalam “cup of tea” saya. Jadi.. bintang 2 saya kasih buat buku ini. Kebayang kalau saya masukin buku ini rate 4/5 karena ceritanya emang bagus buat saya walau sedikit “off” di beberapa tempat.. nanti daftar rekomendasi buat buku yang saya baca akhirnya jadi penuh cerita sedih. Ga suka c.

Dan yah… begitulah… 2 bintang untuk buku bagus penuh moral tapi harus membuat saya berlinang air mata.

0

Istimewa

Untuk beberapa individu, keistimewaan merupakan hal yang berlimpah. Keistimewaan bisa jadi datang dari hal yang diperjuangkan, bisa jadi juga datang dari “pihak lain” yang membawanya. Tapi yang jelas.. untuk yang merasakannya, keistimewaan itu membawa keuntungan tersendiri. Pihak yang diistimewakan biasanya akan merasa beruntung dan berharga. Dan ketika rasa pamer muncul dalam hal mengumbar keistimewaan tersebut… rasa iri dan cemburu bisa jadi muncul dari pihak lain. Beberapa kasus c gitu ya, bisa jadi ga semua. Faktanya… Ini wajar c, karena itulah keistimewaan dari sifat istimewa itu disebut… I.S.T.I.M.E.W.A! Suatu hal ga biasa yang ga semua orang bisa ngedapatinnya. Yap, seberharga itulah yang namanya istimewa.

Tapi, namanya hal-hal yang terjadi di dunia c yah, istimewa juga kena hukum “relatif”. Keistimewaan satu hal, bisa jadi kerecehan bagi pandangan yang lain. Dan.. meremehkan keistimewaan ini, terlepas dari usaha “menjaga” suasana hati yang diliputi cemburu, iri dan kedengkian tadi yah. Yaaa karena relatif. Contohnya, untuk seseorang, punya pasangan “istimewa” bisa jadi adalah hal yang berharga dan menimbulkan rasa iri. Tapi untuk individu yang berfikiran “singleton”, pastinya hal itu ga ada apa2nya kan.

Contoh lain, jadi pejabat adalah hal yang menggembirakan karena kondisi “panjat sosial” yang diidamkan terjadi. Tapi beberapa pihak lain yang saya kenal, jadi pejabat ga lebih dari sekedar “beban” menerima amanah yang harus dipertanggungjawabkan dunia akhirat. Dan beberapa contoh lainnya.

Walaupun ceritanya tentang istimewa, sebenarnya bukan itu inti dari tulisan ini. Tulisan ini justru timbul dari pertanyaan “seberapa besar keistimewaan yang diterima itu dimanfaatkan penerimanya?“. Awalnya, saya sendiri ngerasa kalau orang yang mendapatkan keistimewaan wajar banget untuk memanfaatkan kelebihannya itu. Karena saya juga bakal melakukan hal yang sama. Contohnya… seandainya saya itu ganteng, mungkin saya bakal manfaatin buat terjun ke dunia hiburan buat hidup berfoya-foya. Well, tapi faktanya, saya enggak gitu. Dan saya musti bersyukur c.. karena society masih ngeliat saya sebagai sosok yang hidup bersahaja, walau sebenernya emang ga sanggup ajah foya-foya. Hahaha 😀

Tapi… ternyata itu ga wajar. Karena, ga semua orang mau merasa diistimewakan. Beberapa pihak akan merasa bersalah memanfaatkannya. Merasa berhutang, dan bisa jadi merasa berdosa juga. Contohnya, anak presiden RI petahana yang menolak kateringnya untuk diistimewakan di acara pemerintahan (bukannya berpihak yah, tapi itulah yang beliau nyatakan di sebuah acara talkshow). Terus contoh lain, ada anak dari seorang dosen yang cukup dikenal yang menolak diperlakukan spesial dan memilih mengantri bersama mahasiswa lainnya.

Kalau dilihat dari pelakunya, pemanfaat keistimewaan juga ga bisa di-generalisir c yah. Awalnya, simpulan awal saya… mereka yang meng-eksploitasi keistimewaan tersebut, rata-rata yang shocked dengan kondisi “panjat sosialnya”. Sejenis OKB gitu… Tapi akhirnya, setelah mikir ulang, kayaknya ga juga. Soalnya, banyak juga drama korea yang ngasih lihat situasi kalau putra mahkota itu jahat banget. Mungkin kamu bertanya2… kok contohnya gini… Yaaa, maksudnya, si putra mahkota kan udah terbiasa sama kemewahan kehidupan di istana tapi justru dia memanfaatkan keistimewaan sebagai putra mahkota dengan berbuat seenaknya.

Jadi yaaa gitu deh. Begitulah.

Ini lagi2 cuma tulisan ga jelas, supaya blog-nya merasa istimewa ga ditinggalin gitu aja sama authornya. Hahaha.

0

Warisan

Kadang jadi kepikiran sendiri.. jangan2 profesi itu adalah hal yang diwariskan orang tua kepada anak.. dengan dukungan lingkungannya masing-masing. Kayak putra mahkota kerajaan yang memang dipersiapkan untuk menjadi seorang raja. Walaupun ga gitu banget c yah.. tapi minimal kerjaan orang tua sama anaknya rata2 sebidang gitu.

Contohnya.. master chef Arnold, orang tuanya juga punya profesi sebagai chef. Tetangga saya, profesinya pilot, dan ternyata keluarga besarnya juga bergerak di bidang aviasi. Terus kenalan saya, kebanyakan Om dan Tante-nya berprofesi guru/dosen, dan ternyata dia juga memilih profesi sebagai pengajar, terus juga ada anak SMA yang pengen masuk fakultas kedokteran UI karena papah-nya itu dokter spesialis mata (ini dari video YouTube kumparan tentang tempat bimbel berharga fantastis).

Contoh lain, anak seorang artis yang ikut terjun ke dunia hiburan, PNS yang meregenerasi dirinya dengan meminta anaknya untuk jadi PNS di institusi pemerintahan yang sama (plus, abaikan tentang nepotisme di sini.. anaknya anggap aja memang mampu).. Belum lagi, ponakan saya sendiri dari keluarga ibu saya.. dia memilih jadi ahli gizi, dan sepupu saya itu, berprofesi sebagai perawat. Well, berasa tua banget saya yah, ponakan sendiri udah kerja gitu. Padahal jarak saya Ama ponakan cuma 5 tahun-an 😣 owh.. dan jangan lupakan tentang presiden RI ke-sekian dengan keterlibatan anaknya di partai politik.

Dan selain itu.. ada juga yang warisannya berupa amanah. Untuk beberapa kasus,hal ini rata2 dialami sama pelaku profesi yang baru muncul 15 tahun belakangan.. misalnya kayak jadi programmer, profesional gamer, konsultan IT, dan lainnya. Karena saking seringnya di depan komputer, anaknya disuruh kuliah di informatika. Dan anak2 tipe gini yang dikeluhkan teman-teman saya yang dosen. Karena, ada suatu gap yang nyata antara sekedar penikmat teknologi dengan penggunaan teknologi untuk berkarya.

Tapi beberapa kasus di atas juga saya pribadi ga tau bisa digeneralisir atau enggak. Karena ada juga yang orang tuanya PNS tapi anaknya dokter. Atau, anaknya dosen, tapi bapaknya kerja jadi security di perumahan mewah. Dan.. setau saya, jumlahnya beberapa aja untuk hal kayak gini. entah memang kasus khusus/pencilan atau memang ini terjadi umum, tapi jarang jadi pembicaraan ajah.

Begitulah.. entah benar atau enggak.. tapi yang jelas, profesi pilihan si anak biasanya didasarkan pada arahan figur pendukung dan observasi lingkungan. Beruntung anak2 jaman sekarang punya pilihan yang banyak dengan luasnya akses informasi. Tapi yaaa lagi2.. selalu ada kasus khusus. Soalnya, ponakan saya (beneran anaknya kakak saya) bilangnya mau jadi aidol Korea padahal ibunya udah nyekolahin dia di sekolah agama terpadu. 😅

0

Menggunakan Mail Merge untuk Penulisan Dokumen di MS Word dengan “Database” MS Excel

Mail merge merupakan fitur dari document editor Word yang berfungsi untuk membuat dokumen secara massal dengan data yang bersifat personal. Contohnya, pembuatan surat panggilan penyelidikan, dokumen kontrak asuransi, dokumen tagihan billing bulanan, atau bisa juga surat keterangan mahasiswa. Jenis dokumen yang dicontohkan sebelumnya, semuanya bersifat “templating” dalam artian memiliki kata-kata yang sudah diatur, bersifat formal, dan seragam. Akan tetapi, setiap dokumen tersebut diserahkan pada individu dengan data yang berbeda satu dengan lainnya.

Untuk jaman now, mahasiswa IT biasanya akan dengan mudah membuat dokumen templating ini dengan sistem yang dibangun menggunakan bahasa pemrograman dan database management system (DBMS) tertentu. Akan tetapi, untuk orang yang tidak mempunyai latar belakang IT, pembuatan aplikasi tersebut, mungkin sulit dilakukan. Untuk itulah, editor dokumen menyediakan fungsi tertentu agar menangani kondisi tersebut, yaitu pembuatan dokumen dengan mail merge. Walaupun jaman sekarang semua sudah serba otomatis menggunakan sistem komputer, fungsi mail merge masih banyak digunakan di beberapa perusahaan untuk menuliskan hal-hal yang tidak dicakup oleh sistem/aplikasi.  Sesuai namanya, mail merge dimaksudkan untuk “menggabungkan” mail. Hal yang digabungkan adalah template surat dari Word, dan data surat dari Excel. Data surat tidak harus dari Excel, bisa juga dalam bentuk yang berbeda, tapi pada tulisan ini, mengkhususkan pembahasan pada dokumen Excel.

Pada tulisan ini, kita akan melihat cara menuliskan dokumen berupa surat pemanggilan kepada orang tua/wali siswa di sebuah sekolah. Hal pertama yang harus dilakukan yaitu membuat data “personal” yang dibutuhkan untuk membuat surat tersebut. Data ini dibuat dalam file Excel. Contoh file yang dapat dibuat:

Berdasarkan data di atas, dapat dibuat template dokumen dalam file Word. Pengetikan dokumen dilakukan seperti biasa, akan tetapi, terdapat tahapan tambahan, yaitu menambahkan data penerima dokumen. Hal ini dilakukan dengan memilih tab “Mailing” dan pilih “Select Recipient” –> “Use an Existing List”, lalu pilih dokumen Excel yang telah dibuat sebelumnya.

Setelah menekan OK, beberapa menu pada tab Mailings akan aktif. Hal ini menandakan pengetikan surat telah dapat dikombinasikan dengan data dari file Excel.

Ketik surat seperti biasanya, akan tetapi pada kata-kata yang membutuhkan data dari dokumen lain (file Excel), maka pilih “Insert Merge Field”, dan pilih data yang dibutuhkan. Contoh surat yang dapat ditulis berdasarkan data sebelumnya adalah sebagai berikut:

Hal yang berbeda terlihat dari teks yang diapit dengan tanda “<<” dan “>>”. Teks tersebut merupakan efek yang didapat dari “Insert Merge Field”. Setiap data yang ada, akan diganti dengan data dari Excel. Untuk melihat hasil “merge” antara 2 dokumen ini, dapat dipilih menu “Preview Result” dari tab Mailings. Dan untuk mengganti data yang dimunculkan, dapat dipilih panah kiri/kanan, atau masukkan angka sesuai urutan yang terdapat di file Excel.

Berikut hasil preview result dari dokumen Word sebelumnya.

Dokumen di atas sudah dapat di-print seperti biasa. Akan tetapi, terdapat hal yang berbeda. Format tanggal yang diberikan tidak sesuai dengan harapan. Seharusnya, tanggal pemanggilan dituliskan 08-04-2019. Akan tetapi, yang tercantum pada dokumen adalah 4/8/2019. Penulisan tanggal dituliskan dengan format m/d/yyyy. Hal ini tidak sesuai harapan. Untuk menangani hal tersebut, lakukan hal berikut:

  1. Pada dokumen Word, dengan bagian yang ingin diubah formatnya (field Time) tekan Shift+F9 (OS: Windows). Konfigurasi keyboard berbeda untuk Mac. Maka, tampilan akan berubah dari <<Time>> menjadi {MERGEFIELD Time}.
  2. Ubah format dari mergefield, dengan mengubah dari {MERGEFIELD Time} menjadi {MERGEFIELD Time \@ dd-MM-yyyy}

Preview result kembali, dan dokumen akan berubah. Lakukan hal yang sama untuk penempatan tanggal di bagian tanda tangan. Maka tampilan dokumen sebagai berikut:

Untuk pengubahan format, berlaku juga bagi tipe data numerik. Berikut beberapa alternative yang sering digunakan untuk pengubahan format:

Sumber diambil dari sini

Untuk melakukan print, fungsi print dapat dilakukan seperti biasa. Jika dokumen yang ingin dicetak banyak sekaligus untuk nomor tertentu, dapat memilih menu “Finish & Merge” –> “Print Documents”. Maka akan muncul pop-up window “Merge to Printer” seperti berikut:

Jika ingin mencetak semua data yang berasal dari Excel, pilih All. Atau juga dapat memilih Current Record untuk mencetak yang sedang dilihat. Selain itu dapat pula memilih data nomor berapa yang akan dicetak dengan memasukkan nomor pada “From” dan “To”.

Begitulah cara menggunakan Mail Merge di dokumen Word & Excel. Selain menulis surat penting, Mail Merge juga dapat digunakan untuk membuat sertifikat kehadiran peserta, sertifikat kepanitiaan, dan hal-hal lain yang bersifat templating.

Note: Tulisan ini merupakan tulisan request dari seseorang yang kabarnya ga jadi dipublish. Jadi, daripada ga jadi dipublish mending dibikin self publishing 😀 Semoga membantu yah..

0

[Review Buku] Pengurus MOS harus Mati

Judul: Pengurus MOS Harus Mati
Author: Lexie Xu
Jumlah Halaman: 304
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Resume:
Hanny Pelangi mendapat tawaran bergabung menjadi pengurus elite di sekolahnya, yaitu menjadi panitia MOS (Masa Orientasi Sekolah). Tawaran ini merupakan kehormatan sendiri bagi Hanny karena Hanny adalah siswa biasa yang tidak aktif di keorganisasian. Selain itu, faktanya tidak semua anggota organisasi bisa menjadi panitia MOS. Bahkan, dari 50 anggota OSIS, hanya 17 orang yang terpilih untuk menjadi panitia MOS. Dan salah satunya, Benji, sang ketua OSIS SMA Persada Internasional, dan juga pacar Hanny. Pada kegiatan tahun MOS di masa kepemimpinannya, Benji menginginkan acara MOS yang tidak biasa untuk dilaksanakan di sekolah. Ide yang diberikan adalah, pelaksanaan MOS yang dilakukan selama 6 hari yang menyiksa, dan di hari terakhir, puncaknya terdapat party yang tidak terlupakan sehingga menjadi moment penting bagi siswa/siswi baru.

Strategi untuk “menyiksa” anak-anak baru ini adalah dengan membentuk cerita-cerita misteri, horor, dan mengerikan. Setelah cerita tersebut disebarkan, beberapa kelompok anak harus terlibat untuk mengalami kejadian horor tersebut. Setiap cerita dikarang oleh beberapa panitia MOS yang diketahui oleh seluruh panitia MOS tersebut. Ide tersebut tentu saja tidak biasa, sehingga menimbulkan pro dan kontra. Kritik tajam berasal dari Frankie, satu-satunya siswa kelas 10 yang bukan siswa baru (tinggal kelas). Frankie bergabung atas saran kakaknya, Ivan yang juga menjadi panitia MOS dan aktif di kegiatan kesiswaan untuk bidang atletik. Walaupun demikian, acara tersebut tetap berlangsung sesuai dengan arahan ketua OSIS (dan juga ketua panitia MOS–mungkin).

Hari pertama, kegiatan “penyiksaan” berjalan lancar. Sampai cerita horor pertama diperdengarkan. Setelah cerita tersebut disampaikan, cerita seram tersebut menjadi kenyataan, bahkan menimbulkan korban, termasuk panitia MOS itu sendiri. Termasuk Hanny Pelangi. Walaupun muncul korban, kegiatan MOS tetap dilaksanakan di hari berikutnya dengan spirit “menyiksa siswa baru hingga mendendam pada panitia MOS”. Keputusan yang tidak tepat, karena selama kegiatan dilaksanakan, panitia MOS yang mengarang cerita seram itu sendiri yang menjadi korban akan ceritanya. Dan bukan panitia MOS saja yang menjadi korban, tapi juga orang di sekitarnya.

Frankie yang melihat pola atas jatuhnya korban tersebut mencoba mencegah jatuhnya korban yang lebih banyak. Bersama Hanny, Frankie mencoba menghadapi semuanya. Akan tetapi hal tersebut sia-sia. Kejadian seram tetap menjadi kenyataan, dan beberapa suspect muncul hingga puncaknya, cerita seram terakhir menguak siapa dalang dari semua kejadian-kejadian mengerikan tersebut.

Opini:
Bagus. Keren… tapi ga sekeren itu. So so lhah.. itu yang kepikiran di saya pas namatin buku ini. Mungkin saya membaca buku ini dengan harapan lebih, dan sayangnya hal tersebut tidak tercapai. Buku ini merupakan seri kedua dari seri “Johan Series”, dan rasanya ga ada hal baru yang ditawarkan author di buku kedua-nya dibandingkan buku yang pertama. Ada sedikit “humor”, cerita mengerikan, penuh aksi, red-herring layaknya novel misteri (sumpah, ini ganggu banget), dan twist di akhir cerita.

Akhirnya yang ngegantung jadi petunjuk kalau “Johan Series” belum tamat. Dan saya agak sedikit keganggu sama fakta ini. Secara pribadi, saya ga suka cerita yang bikin penasaran dan gantung. Sukanya sama ending yang “selesai” dan berakhir bahagia. Minimal, feeling-nya kayak “satu akhir cerita merupakan awal dari cerita yang lain” lhah.. itu ga masalah c.. karena walau bersambung, tapi udah selesai. Dan buku ini ga gitu.. karena si tokoh utama antagonis-nya malah belum muncul. Cuma muncul namanya doang.

Cara penceritaan dari sudut pandang Hanny yang terlalu “apa-adanya” dan penuh glamoritas, bikin cerita ini enak buat dibaca. Beberapa reader mungkin justru ga suka yah.. karena penceritaanya bikin cerita seramnya jadi lebih “light” dan jadi kurang berasa cerita thriller/misteri. Walau gitu, justru hal itu yang bisa bikin saya namatin buku ini dari awal sampai akhir, bahkan masih mau baca seri selanjutnya.

Overall, ceritanya bagus, tokohnya punya karakter yang “ngalir”. Kejadiannya enggak masuk akal. Itu pasti yah. Soalnya dari buku 1 pun, cerita ini udah keliatan ga masuk akalnya. Cerita sampingan berupa kisah cinta tarik ulur antara Hanny dan Frankie pun lumayan menghibur. Cuma yaaa itu. Ga ada hal baru yang disampaikan di sini. Dan bahkan muncul red-herring yang ga total di sini. Kalau kamu baca resensi-nya di goodreads, bilangnya… semua petunjuk mengarah ke Jenny, sahabatnya Hanny. Tapi, kalau ga salah ingat, cuma butuh beberapa halaman aja sampai “petunjuk palsu” itu menemukan kesaksiannya yang ga berdasar. Well, itu spoiler c. Tapi jelas banget ini ngeganggu. Kayak red-herring tapi berasa bukan. Yah gitu deh.

Singkat cerita… 3 bintang buat novel dengan cerita seram yang penuh adegan manis.

0

Bukti

Temen saya beberapa hari lalu bilang ke saya gini..

Gw sedih! Gw punya statement “gw itu ganteng”. Gw ngebuktiin ke orang2, tapi mereka malah nyoba buat meyakinkan gw kalau gw itu buruk rupa. Ini versi upgrade dari statement di sidang MK, bro!!

Well, terlepas dari ke-alayan statement di atas, saya tuh jadi kepikiran satu petuah yang didapat dari temen lain di lain kesempatan.

Hidup itu memang ga adil, tapi bersyukurlah, karena kamu ga tau kapan ketidakadilan itu berpihak ke kamu

Yah.. semoga teman saya itu mendapat keberpihakan dari ketidakadilan itu yah suatu saat.

Cheer up for you, bro. 😉🌞

0

9-TEEN(나인틴) – 세븐틴(SEVENTEEN) COVER

Lagi suka sama lagu di atas. Kabar yang beredar dari pecinta Drakor remaja kekinian, ini ost dari drama series yang ada di YouTube dengan judul 9teen.

Well, personally, i don’t know about dramanya yah. Belum nonton, plus belum mau cari tau buat nontonnya. Cuma suka ajah ama lagu di atas. Ost drama yang dinyanyikan band seventeen ini (seventeen tuh band Korea lhoh ya, bukan Indonesia), di-cover sama pemain drama itu sendiri–which is member idol dari grup golden child. Dan di video itu, dia nge-cover lagu ost dramanya bareng temennya sesama idol dari golden child.

Btw.. temennya si pemain drama itu, keren banget nyanyinya. Check this video to find out his talent.

Keren yah.. anak berbakat jaman sekarang mah enak yah kalau mau pamer.. bisa punya penyaluran bakat yang sifatnya komunal. Keinget aja c jaman dulu, kalau mau terkenal musti unjuk gigi di AFI Junior atau idola cilik. Heu.. 😁

Balik lagi ke video paling atas.. kalau diperhatiin berulang kali.. itu si pemain drama sama temennya kayak pakai cincin coupling gitu kan yah. Kyaaa~~~ kawaii.. 😆😆😘 walau kabar yang beredar, itu bukan cincin coupling, tapi cincin identitas grup mereka.. yaaa si golden child itu. Kecewa dikit c 😣 tapi yaaa gapapa lhah ya. Btw, saya bukan fudanshi yah. Cuma sukak aja kalau ada bromance2 gitu.

Begitulah.. keren yah.

0

[Review Buku] Our Story

Judul: Our Story
Author: Orizuka

Resume:
Yasmine, cewek pindahan dari Amerika ke Indonesia, masuk ke sekolah Budi Bangsa karena kesalahan orang kepercayaan ayahnya. Sekolah dengan reputasi buruk dari segi siswanya, manajemennya, bahkan juga hampir sebagian besar gurunya. Di sekolah ini Yasmine bertemu Nino si pembuat onar beserta bawahannya, Mei (bukan anak baik2 dari segi moral juga), Ferris si ketua kelas dan ketua Osis dengan misinya sendiri, dan juga teman-teman lainnya dengan sifat pem-bully.

Interaksi Yasmine, Nino, Mei, dan juga Ferris berada dalam satu titik temu, yaitu ketidakpercayaan pada orang dewasa, dan mimpi mereka untuk mengubah “dunia”-nya. Dan hal itu merupakan ceritanya.. cerita mereka.

Opini pribadi:
Cerita ini bisa dibilang ga biasa dengan eksekusi yang juga ga biasa pastinya. Pemilihan judulnya tepat banget. Our Story… Cerita Kita. Iya, kita! Kita dalam artian mereka, para tokoh cerita. Awalnya Yasmine bercerita tentang dirinya yang masuk sekolah tidak bermutu dengan segala masalah di dalamnya. Tapi makin ke tengah cerita, terdapat cerita tentang Nino. Cerita tentang Mei, Cerita tentang Ferris dan Nino, dan lainnya. Melebar lhah. Seperti cerita tipe “jurnal” lainnya, satu akhir cerita merupakan awal dari cerita lainnya. Tapi di buku ini, kisah berhenti di tahun kelulusan dengan sejumlah karangan bunga yang tertulis di dalamnya.

Kisah dari satu scene ke scene yang lain bikin author blog ini jadi kayak lihat filem remaja Thailand dengan kisahnya masing-masing. Asli. Tapi dialog yang tergambar, dituliskan dengan keren!

Untuk ceritanya… Saya pribadi gak bermasalah dengan ceritanya yang terlalu wooww. Yaaa, ga heran ada hal se-wooww yang diceritakan buku ini di luar sana. Tapi, kalau di jaman sekarang ada yang ngebacanya, mungkin kesannya terlalu lebay… dan ngerasa, kok bisa kejadian gitu ga viral di jamannya terus ga ada penindakan. Well, wajar aja c yah, ini buku ceritanya udah lama. Udah 9 tahun lalu (kayaknya) dari penulisan tulisan opini ini. Latar ceritanya sendiri cukup kekinian dan ga dimakan jaman. Jadi wajar kalau ada yang kepikiran gitu. Walaupun sejauh ini ga ada yang komen gitu. Hehe..

Ceritanya enak dibaca. Ga tau karena emang enak dibaca atau karena author ini sukak banget ama novel yang ditulis Orizuka. Belum lagi penggambaran Mei yang having crush ke Ferris (which is nyata banget pas scene “gw-ngehindarin-Ferris“-nya). Seneng banget lhah intinya… Hahaha.. begitulah.

Kalau kamu tanya rekomen atau enggak… saya c jawabannya bakal tergantung sama si penanya. Dia udah cukup dewasa atau enggak buat tau mana yang baik atau enggak baik sesuai norma? Bukannya kenapa2.. kalau salah baca, bisa jadi kesan yang ditimbulkan, orang dewasa tuh kebanyakan ga bisa dipercaya, kekerasan itu diperlukan dalam kehidupan, dan hal-hal lain yang cukup negatif. Sekali lagi, itu kalau dibacanya ga bener yah. Memang ada kesan baik yang ditinggalkan kayak betapa pengertiannya Ibu-nya Mei, terus Bapak guru PKN-nya. Dan beberapa kesan baik lainnya. Tapi yang namanya kondisi psikologis manusia c yah.. saya pernah dapat ceramah kalau yang namanya pikiran negatif bakal meng-generalisir keadaan jadi serba negatif. Yah, liat aja kondisi sosmed dengan berita politik Indonesia hampir 6 tahun belakangan ini. Jadi… karena tokoh2 dalam cerita ini berfikiran negatif, khawatir bakal menghilangkan kesan positif yang ada di dalamnya.

Begitulah… sekali lagi, bukan berarti buku ini ga bagus yah. Cuma hati2 aja kalau dibaca anak-anak jaman now c. Apalagi ini cerita remaja dengan target pembaca yang remaja juga. Okeh, gitu ajah.. 4 bintang buat cerita anak-anak Budi Bangsa yang punya mimpi mengubah “dunia”-nya.

0

[Review Buku] Cinder Ana On Duty

Judul: Cinder Ana On Duty
Author: Sofi Meloni
Jumlah Halaman: 284
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Resume:
Anna, cewek SMA biasa mempunyai perubahan aktivitas luar biasa setelah kejadian yang dialaminya bersama seorang artis terkenal bernama Kent Adrian. Terlebih setelah Kent memiliki “takdir” yang “dekat” dengannya, yaitu menjadi bintang reality show di sekolah Anna. Berbeda dengan 2 sahabatnya Lika dan Juli, yang merupakan fans berat Kent, Anna hampir tidak tahu apa-apa tentang Kent selain ia adalah artis terkenal, spanduknya yang besar di sebuah mall pada acara Meet & Greet, dan juga 2 temannya yang mengagungkan sosok Kent. Anna jelas lebih memilih Kak Vino menjadi sosok yang dipujanya di ekstrakurikuler Pramuka dibanding Kent yang menjadi sosok idola remaja kebanyakan.

Perubahan hidup Anna terlihat setelah Kent memilih Anna sebagai asisten pribadinya secara paksa karena kecelakaan yang mereka berdua alami. Dibantu dengan Bang Asep (yang ingin dipanggil Kak Elsa), Anna menjalani hidupnya sebagai sosok yang menemani Kent di saat-saat tertentu. Interaksi yang dimulai dari perseteruan berubah ke arah yang berbeda setelah saling mengenal dan memahami. Jelas Kent menyimpan rasa pada Anna. Tapi Anna cukup tahu tentang pilihannya yang lain, dan bebas konflik dari Isabella–sosok aktris yang terobsesi pada Kent. Sampai akhirnya, Anna harus memilih antara Kent atau Kak Vino. Siapakah yang Anna harus pilih?

Opini:
Cerita teenlit kebanyakan dengan “template” yang juga pastinya rata-rata udah ketebak ceritanya. Belum lagi judulnya yang udah kasih petunjuk sendiri ini cerita tentang apa. Cewek biasa dengan pemikiran simple-nya, cowok luar biasa dengan ketenarannya. Terus ada cowok biasa yang dipuja cewek biasa. Tokoh pembantu di sana-sini. Interaksi yang berlebihan antara cewek biasa dan cowok luar biasa. Rasa yang muncul di antara keduanya. Tokoh antagonis yang tiba-tiba muncul di tengah cerita. Hal yang harus diperjuangkan, dan juga solusinya. Standar. Tapi eksekusi dari authornya keren banget dan enggak standar sama sekali (ini opini pribadi lhoh ya).

Walaupun mengambil cerita remaja kebanyakan dengan alur standar, “template” cerita yang udah dikenal… setting di sekolah SMA kelas 11, dan cewek “simple” yang juga ketebak kisahnya, novel ini nyaman banget buat dibaca. Mungkin kamu bertanya-tanya “Kok Bisa? Bukannya bosan..”

Well, buat pembaca buku se-gede author blog inih, mungkin ini tuh mirip kayak dengerin musik yang udah familiar beat-nya tapi pakai melody dan lirik yang baru. Atau kayak penikmat musik K-Pop yang nyaman banget denger karya musisi idol mereka dari album ke album walau tiap albumnya beda genre dikit2.

Intinya, author buku ini enggak menyediakan sesuatu yang sama sekali baru, tapi enak banget buat dinikmati di waktu senggang. Kalau review dari goodreads user, banyak yang bilang ceritanya ngalir, alurnya seru, bisa balikin mood baca… dan secara pribadi, saya setuju ama komentar-komentar itu. Dan terlebih, ini buku happy ending! (at least for me).

Banyak hal-hal kecil yang akhirnya dikemas rapi sama author dengan cara yang manis. Asli, ini keren banget. Saya ngebaca buku ini tipe soft-copy c yah. Pake aplikasi Gramedia Digital. Jarang banget ada fiksi yang bisa saya baca sampai selesai di aplikasi ini. Soalnya biasanya dipakai buat baca majalah, koran atau tabloid aja. Pernah c beli buku fiksi… tapi akhirnya ga kebaca sampai selesai. Dan buat buku Cinder on Duty ini, tamat dalam beberapa hari. Iya, ga langsung tamat kayak baca buku dulu c yah.. tapi akhirnya selesai. Bahkan sampai ditulisin review-nya di blog ini. Yeaaayy… ini pencapaian!

Apapun itu, buku ini recommended banget buat dibaca di waktu senggang. Apakah akan dibaca lagi dalam waktu dekat?! Jawabannya mungkin enggak.. dalam waktu lama?? Mungkin jawabannya juga sama.. yaitu enggak. Heu.. bukannya karena ceritanya ga bagus. Tapi yaaa namanya fiksi yah, ya udah… ntar juga pas mulai baca ulang di halaman berapa udah keingat ceritanya terus ga seru lagi. Beda ama buku pelajaran. Walau udah dijelasin ama guru, dibaca sendiri… tetep aja ga inget kontennya pas ujian. Hahaha.. Begitulah.

Simpulannya, 4 bintang buat buku keren dengan cerita standar tapi fantastis ini.